Ketika 2 Crazy Bertemu…

July 21st, 2008 by asriat

Crazy_fa Hari minggu, 13 Juli, Langsat Corner menjadi saksi bertemunya 2 orang super crazy dalam sejarah hidup gua yang setengah kelam.

Yang pertama adalah superstar band legendaris AKA, yaitu Bang Ucok Harahap, yang dahulu terkenal dengan aksi-aksi panggungnya yang crazy seperti: digantung terbalik lalu dicambuki, keluar dari peti mati dsb. Bersama groupnya, AKA, beliau menelurkan nomor2 cadas legendaris seperti Do What You Like, Shake Me, Crazy Joe, Glennmore, Cruel Side, Suez War dsb. Sebuah hit galau berjudul "Badai Bulan Desember" juga sempat jadi hit besar yang gaungnya masih ada sampai saat ini.

Salah satu yang terkena imbas "Badai Bulan Desember" ini adalah seorang sahabat yang akrab dipanggil dengan sebutan "Crazy Fa". Entah crazy bohongan atau beneran, wallahu alam.

Tanggal 13 Juli lalu, kedua "Crazy" ini bertemu dalam acara Temu Bulanan KPMI. Sungguh sebuah momen langka. Setelah bersalaman dengan Bang Ucok, Crazy Fa menangis terharu dan tak mencuci tangannnya sampai saat ini. (untung salamannya pake tangan kanan, kalo pake tangan kiri kagak kebayang dah..hehehe..)

Tiada Ampun Bagimu (judul asli - Mengapa Tiada Maaf)

June 14th, 2008 by asriat

Sejak banjir besar Februari lalu, banyak tikus berkeliaran dalam rumah gua. Mungkin ada sekitar 5 ekor. 4 tikus dan 1 cecurut/celurut/curut. Awalnya kehadiran mereka masih bisa ditoleransi, dalam artian mereka cuma beraksi selepas jam 12 malam. Namun lama-kelamaan, mereka mulai melanggar perjanjian dari hati-kehati itu dengan cara beraksi lebih awal. Jam 8 malam mereka sudah kluyar-kluyur dengan pongahnya di dalam rumah.

Tunggu punya tunggu, karena mereka tidak juga sadar, atas prakarsa istri gua membeli 2 jenis perangkap tikus. Yang pertama adalah lembaran lem super kuat. Lembaran ini berhasil menangkap seekor tikus ABG, yang langsung dibuang ke gerobak sampah yang lagi parkir depan rumah (berikut lembarannya sekalian, karena tikus itu menempel dengan kuat, takutnya kalo ditarik paksa kakinya clopot alias copot).

Yang kedua adalah perangkap primitif yang dulu sewaktu kecil sudah sering gua lihat. Yaitu perangkap berupa kotak berjeruji kawat. Dengan umpan sepotong ikan asap, perangkappun disiapkan. Benar saja, hari pertama perangkap itu memakan korban seekor tikus cilik.

Sempat bingung mau diapakan tikus cilik tsb. Akhirnya sementara dibiarkan aja dalam kurungan, dengan diberi jatah makan ikan asap  dan diberi air sekedarnya untuk minum. Eeh, tak dinyana, 2 hari setelahnya ada biang tikus yang masuk lagi dalam perangkap itu. Mungkin karena dia liat ada temannya yang lagi pesta "ikan asap", makanya tergerak untuk ikut bergabung.

Maka, dengan 2 tikus di kurungan, digelarlah rapat untuk menentukan jenis hukuman bagi 2 tierdakwa tersebut. Peserta rapat yang terdiri dari 2 orang: gua dan adik gua, mengajukan 4 opsi hukuman untuk dipertimbangkan:

Option A: Burn to Crisp - dibakar sampai garing.

Caranya: Sampah2 dalam bak di depan diguyur minyak tanah lalu dibakar. Setelah api besar, masukkan kurungan dengan 2 tikus di dalamnya.

Titik lemah: Cara ini dianggap terlalu sadis dan mungkin mengundang cibiran tetangga.

Option B: Buried Alive.

Caranya: Gali lubang seperlunya. Masukkan kurungan berikut 2 tikus. Timbun dengan tanah.

Titik lemah: Capek ngegali lubangnya karena harus cukup dalam untuk mencegah bau busuk dari jenazah terdakwa.

Option C: Masukkan dalam karung, lalu buang ke seberang tembok batas dengan komplek sebelah. Cara yang paling manusiawi.

Titik lemah: Gua tidak tau apa dibalik tembok tersebut. Juga kemungkinan menarik perhatian orang yang kebetulan lewat. Jika dibuang malam hari, takutnya menimbulkan kecurigaan.

Option D: Diumpankan pada Molurus (sejenis python) piaraan adik gua yang sudah mencapai panjang 2 meter.

Titik lemah: Tidak ada.

Akhirnya setelah melalui perdebatan alot, terpilihlah option D sebagai jalan keluar, dengan perbandingan suara 2:0.

Tinggal 1 tikus lagi dan 1 celurut yang masih tersisa dalam rumah. Semoga mereka bisa mengambil hikmah dari tertangkapnya 3 teman mereka dan mulai kembali menaati batas waktu awal yang diberikan untuk kegiatan mereka, yaitu jam 12 malam.

Masih ada lanjutannya…

Ternyata kemarin tikus yang kecil ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan tubuh penuh luka-luka. Berdasarkan analisasi (peng-anal-an) dari pakar forensik RSCM, juga analisasi foto oleh Roy Suryo, kesimpulannya machluk malang tersebut mokat karena mengalami siksaan dari teman 1 selnya yang bertubuh lebih besar. Ini namanya MMM = Maus Makan Mais.

Menilik kejadian tersebut terpaksa digelar sidang ulang. Kesimpulannya, hukuman mati bagi terdakwa #2 dengan option D dipercepat. Tak lama lagi, iapun nampaknya akan segera ber-reinkarnasi menjadi tahi Molurus.

NB: Sekedar pengetahuan tambahan, ular Molurus ini memiliki sistim pembuangan yang unik. Tainya ada 2 macam. Putih dan kehitaman. Menurut adik gua yang pakar python otodidak dan otoriter itu, tulang2 binatang yang dimangsa kelak akan keluar dalam wujud tai putih, sedangkan daging dan bulu berwujud tai item.

This is What The 80’s and 90’s Are All About For Me (Part 1)

May 28th, 2008 by asriat
Era 80an bagi sebagian orang identik dengan rambut mumbul dipakein foam. Baju dengan lengan digulung, krah diberdirikan, celana baggy dan segudang gaya katro lainnya. Buat gua, era 80an identik dengan barang2 ini.

Semasa SMP dulu, gua termasuk sangat rajin memburu kaset-kaset rock. Entah lokal, entah luar. Tapi saat itu ya jauh berbeda dengan sekarang. Sekarang mau cari album apa yang paling bagus dari satu grup musik, tinggal ke internet, ketik www.allmusic.com, maka segudang data siap dilahap mata. Jaman itu, referensi gua cuma HAI (yang belum sekatro sekarang) plus Vista yang sering mengupdate berita rock mancanegara.

Saat gua SMP, setiap selasa selalu beli HAI, dan yang pertama dibaca pasti Musik HAI atau artikel musik. Misalnya, pernah HAI mengulas tentang WASP, besoknya gua langsung cabut ke toko kaset untuk mencari kaset yang bersangkutan. Waktu itu toko kaset langganan gua adalah sebuah toko kaset kecil di samping KORAMIL Cengkareng (sekarang namanya "Kecamatan"). Pemiliknya seorang engkoh2 setengah tua yang gila rock juga. Kalau duit jajan udah nggak cukup, gua ngiderin bakmi tetangga (istilahnya "nektekin bakmi"). Cuma berhubung usia gua waktu itu masih belia (sekitar 14 tahun), ya belinya juga kurang hati-hati. Misalnya beli kompilasi ada "Child of Fire" nya Queensryche, ya beli kaset Queensryche-nya yang ada lagu itu (kaset Rage for Order). Padahal setelah tau, termyata itu cuma lagu tambahan di kaset Rage for Order itu aja, aslinya dari album The Warning. Tapi waktu itu menegwetehebe (mana gue tahu bo!).

Pernah juga VISTA mengulas sebuah konser rock lokal, dimana salah satu pengisi acaranya membawakan "Set Me Free"nya Saxon. Besoknya begitu ada duit, langsung cari kaset Saxon yang ada lagu itu.

Tadinya kaset2 ini tersimpan dalam dus, sebagai bagian dari kisah lama gua. Selain itu, karena tak ada lagi teman yang dulu biasa berbagi kenikmatan mendengar musik2 ini. Tak dinyana, beberapa bulan lalu, gua kedatangan seorang teman yang membawa seorang teman. Temannya teman gua ini ternyata penggila rock juga, cuma dia cenderung ke Hair Metal. Setelah mereka pulang, gua bongkar dus2 lama, ternyata kaset-kaset ini masih tersimpan rapi dan kondisinya masih seperti saat gua tinggalkan terakhir kali. Jadilah beberapa bulan terakhir ini gua bernostalgila mendengarkan kerasmya "Sign of The Times" Quiet Riot, "The Morning After" nya RATT, "House on Fire"nya Hellix, "You’re The Victim (I’m The Crime)" nya KEEL dsb, yang dulu adalah favorit gua.

Saat ini gua mensinyalir masih ada 2 dus lagi berisi kaset-kaset sejenis ini. Gua yakin itu soalnya inget dulu punya Quiet Riot "Metal Health", Steeler, Alcatrazz "No Parole For Rock and Roll" dan "Disturbing The Peace", Twisted Sister Live, Motley Crue Live dll. Juga ada yang dari era setelahnya (a.k.a Hair Metal), seperti Bulletboys, VAIN, Bang Tango, Britny Fox, Faster Pussycat, Steelheart, Enuff Z’Nuff, Badlands, Shotgun Messiah… Juga ada 1 dus berisi kaset2 Thrash dan Grind yang keberadaannya masih merupakan misteri.

Tapi biarlah itu urusan nanti. Toh paling adanya enggak jauh2. Sekarang biar gua nikmati dulu yang ada…

(BERSAMBUNG)

Ibu Guru Hung Yingping Dalam KenanganI

April 8th, 2008 by asriat

Hari Minggu pagi lalu, saat sedang
berbelanja di Tanah Abang bersama
istri dan nyokap, gua mendapat
panggilan HP dari adik gua. Cuma
karena lowbat, maka panggilan itupun
terhenti. Setelah menelepon balik
dengan menggunakan HP istri, tangan
gua mendadak lemas, sehingga hampir
saja HP istri gua lepas dari genggaman.

"Tadi Tante Li Fang telpon," ucap adik
gua, "katanya Ibu Hung meninggal."

Buat adik gua, nama Ibu Hung mungkin
tak berarti apa-apa, secara dia tidak
kenal dengan beliau. Namun bagi gua
dan staf pengajar Bahasa Mandarin lain
di LPPT UNTAR, terutama gua yang sudah
mengenal beliau sejak tahun 2000, nama
Hung Ying Ping, atau akrab dipanggil
dengan Hong Laoshi (Guru Hong (dibaca -
Hung)), adalah sosok yang teramat
sangat familiar.

Ketegasan beliau dalam mengajar, juga
dedikasi dan disiplin beliau sebagai
pengajar, sungguh merupakan panutan
bagi guru-guru lain di LPPT UNTAR.
Beliau sungguh tegas memilah kapan
kita berperan sebagai teman dan kapan
kita berperan sebagai murid. Jika
diluar jam pelajaran, murid-murid bisa
berbincang akrab dengan beliau tentang
apa saja, dan Hong Laoshi akan
menanggapinya dengan senang hati.
Namun di dalam kelas, walaupun kita
sering berbincang akrab dengan beliau,
namun tetap tak ada kompromi jika kita
tak menghapal Hanzi (kanji) maupun
tidak mengerjakan tugas yang beliau
berikan.

"Belajar Hanyu (bahasa mandarin) tidak
bisa setengah-setengah. Kalau mau bisa
ya jangan tanggung-tanggung. Kalau
malas, lebih baik tidak usah. Sayang
buang-buang uang." Demikian selalu
beliau berucap dengan logat Taiwannya
yang kental, mengingatkan murid-
muridnya yang kadang malas.

Datang selalu lebih awal setengah jam -
satu jam sebelum kelas beliau mulai,
adalah ciri lain dari Ibu Hung. Tidak
pernah sekalipun beliau datang
terlambat. Keluar kelaspun tidak
pernah sebelum waktunya, bahkan
seringkali terlambat keluar sampai
lebih dari 15 menit karena masih sibuk
melatih pelafalan atau pengucapan
murid-murid beliau yang masih
dianggapnya kurang pas.

Mengajar Bahasa Mandarin bagi Hong
Laoshi jelas bukan untuk masalah
perut. Hidup beliau sudah sangat
mapan. Kedua anak beliau sudah menikah
dan hidup mandiri. Mengajar bagi Hong
Laoshi lebih merupakan sebuah
pengabdian untuk berbagi ilmu yang
beliau miliki kepada mereka yang
berniat mempelajari (selain mengajar
Bahasa Mandarin, Ibu Hung yang asli
Taiwan itu juga mengajar Bahasa
Jepang. Beliau menamatkan S1
Ekonominya di negeri Matahari Terbit
tersebut).

Ada banyak kenangan manis dan kocak
gua bersama Hong Laoshi. Diantaranya
sewaktu gua berpasangan bersama
beliau, mengajar kelas hari sabtu
Mandarin Dasar. Kelas sabtu tersebut
berlangsung dari jam 09.00 - 13.00,
dibagi menjadi 2 sesi dan diseling
istirahat selama 15 menit. Sabtu
terakhir tersebut, seharusnya dibagi
menjadi 2 sesi juga, sesi pertama
untuk review (bagian gua), sesi kedua
adalah ujian (jatah Hong Laoshi).
Namun murid-murid waktu itu membujuk
gua dengan 3/4 memaksa agar sesi
review ditiadakan saja dan langsung
ujian.

"Kan ujiannya susah, Laoshi. Lagipula
soalnya banyak." Demikian salah
seorang murid berkilah.

"Lagipula mana ngaruh review saat
begini, tegang tau Laoshi. Diterangin
juga nggak bakalan masuk." Yang
lainnya ikut umbar alasan.

Akhirnya gua menyerah, soalpun
dibagikan.

Jam 10.30 Ibu Hung datang.

"Koes, mana soal-soal yang buat
nanti?" Tanya beliau pada Mas
Koesmanto, staf LPPT yang biasa
mengurus pendaftaran siswa dan pernak-
pernik lainnya.

"Lho, kan udah diambil Pak Asriat,
Bu." Jawab Mas Koes yang asli Solo
dengan logat jawanya yang medhok.

"Diambil Pak Asriat? Kan ujiannya sama
saya?"

"Tadi murid-muridnya minta supaya
ujian dimajukan, Bu. Katanya soalnya
susah."

Tentu saja Ibu Hung mana mau kompromi
soal begini. Maka dipanggillah gua
oleh beliau, dinasehati panjang lebar
yang intinya soal ketegasan dalam
memegang peraturan. Gua mencoba
berkilah dengan alasan soal yang sulit
dan banyak itu.

"Kasihan murid-murid bu.." Demikian
alasan gua.

"Hao, ni dang hao laoshi, wo jiu dang
huai laoshi..(baca: Hao, ni tang hao
laose, wo ciu tang huai laose)"
Demikian jawab beliau, lalu berjalan
masuk ke ruang kelas. Menaruh kursi
putarnya di tengah ruang kelas dan
mengawasi satu-persatu murid dengan
seksama.

Apa sih arti perkataan beliau
tadi? "Baik, (kalau) kamu jadi guru
baik hati, (Biar) saya yang jadi guru
jahat." Hehe..he..

Sekarang Ibu Guru Hung yang tegas
namun juga kocak dan baik hati itu
telah tiada. Meninggal dalam usia 59
tahun pada Sabtu dinihari lalu karena
kanker.

Ada sebuah kisah mengharukan tentang
sakit beliau ini. Setelah operasi
pertama di Amerika, Ibu Hung rupanya
sudah memiliki firasat kalau usianya
tak lama lagi. Dia berpesan pada kedua
anaknya yang bermukim disana: "Kalau
nanti mami ada kenapa-kenapa di
Jakarta, kalian tak usah memaksa
pulang kalau tidak dapat izin."

Ternyata benar saja, setelah operasi
pertama tersebut (walau kondisi Ibu
Hung sempat membaik), kanker yang
beliau derita ternyata tumbuh lagi
sehingga harus kembali menjalani
operasi kedua di Singapore. Setelah
lama dirawat disana, Ibu Hong memaksa
pulang ke rumah beliau di Jakarta.
Beliau menolak segala upaya
penyembuhan, termasuk kemoterapi,
karena hanya menawarkan kemungkinan
berhasil maksimal 30%.

"Saya jangan jadi beban (keluarga),
terutama anak-anak." Demikian pesan
beliau, seperti yang diceritakan sang
suami, Pak Darvid, seorang Huaqiao
(tionghoa peranakan) asal
Bogor. "Kalau memang sudah waktunya
saya meninggal, saya siap."

Ibu Hung yang tabah itu lalu
menghadapi hari-hari terakhir beliau
hanya dengan berbekal rasa tawakal dan
obat-obatan untuk mengurangi rasa
sakit. Menjelang berpulangnya beliau,
Ibu Hung sempat dibawa ke R.S Gatot
Subroto atas saran dari salah seorang
suster yang merawat beliau di rumah.
Namun Sabtu dinihari lalu, Tuhan Yang
Maha Pengasih akhirnya mengakhiri
penderitaan Ibu Hung, mengangkat
beliau ke tempat yang jauh lebih baik.

Selamat Jalan Hong Laoshi…
Ibu_hung

Sebulan Wafatnya Boss Ben

March 22nd, 2008 by asriat

Sudah hampir sebulan sejak wafatnya Boss Ben. Dalam kurun waktu itu, sudah 3 kali gua mimpi ketemu beliau. Mimpi pertama terjadi beberapa hari setelah si Boss meninggal.

Dalam mimpi tersebut, Boss Ben terlihat lelah, mengenakan celana pendek dan kaos oblong putih. Sedang beristirahat dalam kamarnya di lantai 2 sebuah ruko yang dipenuhi kardus kosong dan white board berisi lajur-lajur. 

"Gua sekarang jadi asisten guru TK, Yat.*" Jelasnya. "Boss gua mau buka TK, dia udah nyari guru dan gua disuruh bantuin guru itu. Tuh murid-muridnya udah ada." Tambahnya sambil menunjuk ke arah whiteboard di dinding, dengan wajah lelah.

Mimpi kedua terjadi kira-kira seminggu sesudahnya. Dalam mimpi itu kulit Boss Ben terlihat bersih, berseri-seri, namun ia sedang sakit. Gua dan adik si Boss lalu mengantar beliau beristirahat di sebuah rumah (yang mirip dengan rumah gua di Cirebon dulu).

Setelah berbaring, tau-tau si Boss membuka sebotol Mix-Max dan meminumnya (FYI buat yang belum tau, Mix-Max adalah minuman berkadar alkohol ringan dalam aneka rasa yang mudah dijumpai dalam mini-mini market).

Gua langsung kaget,

"Lho, katanya sakit kok minum gituan?"

"Abis haus." Jawab Boss Ben enteng sambil nyengir.

Setelah mimpi kedua itu, gua lalu sms adiknya Boss Ben. Ternyata dia belum pernah sekalipun didatangi. Dia lalu sms balik, titip pesan:

"Yat, titip pesan sama Ben, bilangin motor gua masih ada, malah sekarang tambah keren.**" 

Lalu datanglah mimpi ketiga itu. Ada keramaian di rumah Boss Ben dan gua datang kesana. Tiba-tiba si Boss nongol. Masih dengan celana pendek dan kaos oblong seperti 2 mimpi gua sebelumnya.

"Lho, lu bukannya udah mati?" Tanya gua bingung. Lalu kami mengobrol. Sayang gua lupa apa yang diobrolkan.

Sialnya lagi, gua lupa menyampaikan titipan pesan dari adik si Boss.

Yah, maybe next time, Vi.***"

footnote:

*walaupun gua bernama Asriat, tapi teman-teman gua yang kenal dari kecil biasa memanggil gua "Yat". Teman-teman SMA biasa memanggil gua "Ting" (dari marga gua, Ginting), sedangkan di kampus, ada yang manggil At (dari Aat - panggilan mesra untuk Asriat) dan Jim (dari Oom Jim - yang didapat karena gua sering memainkan lagu-lagu The Doors di acara-acara kampus, dan juga karena dulu sering teler..hehe..).

**sewaktu banjir melanda Komplek KFT, februari lalu, motor Kawasaki adiknya Boss Ben yang baru beli terendam air. Si Bosslah yang membantu menyelamatkan motor sang adik dengan cara ngoyok air setinggi pinggang dan menaikkan motor tersebut ke atas rakit dari gedebong pisang.

***Avi, nama adiknya Boss Ben.

Selamat Jalan Boss Ben

March 9th, 2008 by asriat

Bagi teman-teman kuliah dulu yang pernah nginep di rumah gua, pasti tak asing lagi dengan sosok yang bernama Ben, yang akrab dipanggil Boss Ben. Dulu pernah ikut main bola di kampus dan pulangnya ikut makan-makan bersama tim Sastra Cina di RM Berkat. Si Boss mudah berbaur dengan orang-orang yang baru dikenalnya karena sifatnya yang easy going itu.

Pada tanggal 26 Februari lalu, Boss Ben wafat dalam usia 33 tahun. Akibat penyakit liver yang sudah beliau derita selama beberapa minggu belakangan. Beritanya gua terima dari sms seorang teman pada tanggal 26 Februari jam 16.00 = "At, Si Ben meninggal."

Sedih? Jelas! Karena gua sudah bersahabat dengan Boss Ben selama 25 tahun. Sejak kami masih SD. Terutama mengenang begitu banyaknya kisah lucu, suka dan duka dalam sejarah persahabatan kami ini. Boss Ben juga adalah satu-satunya yang gua ajak ke Purwokerto saat lamaran dulu, sebagai saksi dari calon mempelai pria.

Salah satu kisah kocak gua bersama Boss Ben adalah kejadian di Puri Cafe (dimana foto ini diambil), saat gua dan band gua Lazy Sunday mengikuti sebuah acara Brit Pop yang diselenggarakan anak-anak ABG. Saat itu gua memasukkan Boss Ben secara gratis dengan ngebokis bahwa beliau adalah manajer band Lazy Sunday (padahal si Boss cuma pengen nonton doang, dan hari itu ikutan mengantar kumpulan Lazy Sunday berlatih pada pagi hari sebelum manggung) . Lalu pada saat tampil, ternyata aksi Lazy Sunday yang membawakan 2 nomor The Stone Roses : "I Wanna Be Adored" dan "Daybreak" cukup menmukau penonton. Salah seorang penonton lalu bertanya pada Boss Ben:

"Bang, band apa ini namanya?"

"Wah, gue nggak tau.." jawab Boss Ben.

"Lho, kan situ manajernya?"

"Iya, tapi baru aja ketemu tadi pagi."

Hehehe…

Yaah, ini adalah salah satu contoh dari seabreg pengalaman unik bersama si Boss.

Selamat Jalan, Boss Ben. Semoga bahagia di alam sana…

1 Jam Di Bareskrim Mabes Polri

January 7th, 2008 by asriat

Sore itu, Senin 7 Januari 2008, dengan tubuh lemas karena belum sembuh benar dari serangan virus influenza, gua duduk bersandar dalam salah satu ruang tahanan di Bareskrim Mabes Polri.

Sebelum duduk bersandar itu gua terlebih dulu harus melewati 3 pos penjagaan. Pertama, di pintu belakang, menitipkan KTP yang lalu ditukar dengan tanda pengunjung. Kedua, di depan gedung Bareskrim, tanda itu ditukar lagi dengan tanda lain.

Memasuki gedung Bareskrim, dalam sebuah ruangan kecil tepat di depan ruang tahanan, gua menulis lagi nama, alamat dan keperluan, lalu menitipkan handphone gua disana dan diberi nomor (nomor gua 08). Setelah itu seorang petugas membuka pintu terali kokoh berukuran besar dan mempersilakan gua masuk.

Setelah lemas gua mulai hilang, dari dalam salah satu ruangan muncul sesosok tubuh kurus tinggi berambut kribo, dibalut celana jins dan T-shirt biru. Ia membawa piring kotor bekas makan, lalu membungkuk di depan keran di tempat cuci dan mulai mencuci piring tsb.

Hati gua trenyuh melihat pemandangan ini. Sangat kontras dengan saat terakhir kami bertemu. Pelan, gua hampiri ia dari belakang dan gua tepuk bahunya.

"Bang Iyek, masih ingat saya? Asriat." Gua sengaja menyebut nama karena jujur gua takut beliau lupa.

Bang Iyek nampak terkejut melihat gua disitu. Ia tertegun sesaat sebelum melanjutkan, "Oh iya, Asriat Clover Leaf." Beliau buru2 melap tangannya dan menyalami gua. "Silakan tunggu dulu disitu, saya taruh piring dulu."

Gua lalu kembali ke tempat pertama gua duduk. Tak lama, beliau muncul sambil membawa sebungkus Marlboro lalu duduk disamping gua.

"Datang sama siapa?"

"Sendiri, Bang."

Lalu dimulailah obrolan itu. Tentang kasus yang menimpa beliau.Tentang kelanjutan album Godbless. Tentang dukungan dari teman-teman. Obrolannya sendiri tidak seluwes saat bertemu di kediaman beliau Cinere tempo hari. Pertama, mungkin karena beliau merasa rikuh dengan keadaan saat itu, karena jika sewaktu di Cinere posisi kami adalah penggemar dan idola, sedangkan saat ini adalah pembezuk dengan yang dibezuk. Kedua, mungkin beliau juga sedang stress, soalnya sebelum kami mengobrol, Bang Iyek sempat dipanggil penyidik.

"Kasusnya mungkin akan dipercepat. Yaa kemungkinan minggu ini." Katanya sewaktu gua tanyakan ada apa.

Ketiga, kondisi badan gua juga sebenarnya saat itu hanya 60% sehat. Walaupun begitu, gua nggak bisa lagi menunda kunjungan ini karena semakin menunda datang, hati gua semakin nggak enak dan nggak bisa tidur mengingat keadaan beliau.

Pertama gua sampaikan salam dari teman-teman (yang kebetulan di luar kota dan nitip salam untuk beliau via sms), lalu gua ceritakan juga dukungan dan simpati dari teman-teman. Sempat gua ceritakan tentang MPnya Wendy yang memajang tulisan "Free Albar". Beliau nampak senang, "Wah, terima kasih ya. Pokoknya sampaikan salam dan terima kasih saya buat anak-anak (mungkin maksudnya anak-anak muda) dan semua teman-teman yang udah mendukung."

Obrolan berikutnya mengenai pemberitaan di media massa. Raut wajah beliau nampak berubah agak keruh saat membicarakan soal ini.

"Wartawan itu ngaco, jual berita aja. Masa katanya saya bilang kalo kokain di kamar Fachri itu punya dia, mana mungkin? Kalaupun bener punya dia juga pasti saya bilang itu punya saya." (Persis seperti yang dikatakan beliau pada Denny MR dari Rolling Stone Indonesia).

Lalu saya tenangkan beliau dengan memberitahu bahwa teman-teman yang diwawancara juga memberikan dukungan terhadap beliau. Gua ceritakan saat Donny Fattah, Ian Antono, Oddie Agam dll diwawancara.

"Kalo pas mas Jockie saya nggak liat, Bang. Karena waktu itu wawancaranya malam."

Tapi nampaknya beliau juga sudah tahu apa yang dikatakan mas Jockie. Mungkin dari teman-temannya yang lain. Beliau cuma ngomong singkat, "Wah, dia benci banget ya sama gua."

Saat obrolan terhenti beberapa detik, gua mengeluarkan buku "MUSISIKU" dari dalam tas lalu menyerahkannya pada beliau.

"Ini, Bang. Buat baca-baca aja."

"Wah, kapan terbitnya nih?"

Lalu gua ceritakan sejarahnya buku itu. Termasuk siapa-siapa aja yang menyusun. Beliau langsung membuka plastik segel buku tersebut lalu membalik2 halamannya.

"Sayang foto2nya hitam putih semua, Bang. Mungkin untuk menghemat biaya cetak."

Setelah tiba pada bagian Clover Leaf dan Godbless beliau berhenti dan mengamati. Terutama pada bagian filmografinya Godbless.

"Terima kasih ya. Nanti saya baca-baca ah."

Obrolan lanjut lagi.

"Yang paling sering kesini sih Yan sama Mia. Yan bisa tiap 2-3 hari mampir kesini. Dia juga lagi ngumpulin materi tuh buat Godbless. Waktu itu Achmad Dhani juga pernah, terus gitaris-gitaris juga pada kesini."

"Kata Mas Yan ‘pas tinggal take vokal kalo perlu Iyek saya culik’. Saya baca di Rolling Stone yang tempo hari kesini."

Bang Iyek nyengir mendengar kutipan omongan mas Yan.

"Wah, artikelnya udah keluar ya? Saya malah belum baca tuh."

"Nanti saya bawakan, Bang."

"Oh, nggak..nggak usah. Nanti biar saya minta tolong Mia aja."

"Katanya nggak mau bawain lagu Clover Leaf? Kenapa Bang?"

"Haha.. terlalu ngepop ah."

Sayangnya beliau juga tak bisa memastikan soal album Godbless ini. Jelas karena ada persoalan lebih penting yang membentang di hadapan beliau sekarang. Walau tetap berusaha tenang, nampak gurat-gurat kegalauan di wajah Bang Iyek.

Mendadak Bang Iyek berdiri. "Omong2 dari tadi nggak dikasih suguhan nih. Minum ya?" Beliau langsung ngeloyor ke dalam tanpa menunggu jawaban gua, lalu kembali dengan sekaleng Pocari Sweat.

Salah seorang pembezuk tahanan lain yang nampaknya juga sudah kenal dengan Bang Iyek, berbicara dari bangku seberang:

"Enak dong nih tahanan disini bisa dihibur sama suara Bang Yek."

"Wah, suara saya fals nih. Nggak bisa nyanyi kalo disini. Stress." Balasnya sambil senyum.

"Saya paling stress dan terpukul waktu Ai (Fachri) ikutan kena. Alhamdulillah dia nggak apa-apa."

"Itu juga nggak jelas tuh, Bang. Pertama katanya 1.3 gram. Lalu 0.3, terakhir 0.13. Bisa ganti2 gitu ya?"

Bang Iyek mengangkat bahu.

"Enggak taulah. Pas pemeriksaan pertama itu kan nggak ditemukan apa-apa. Tau2 pas pemeriksaan kedua nongol aja tuh inex dan kokain."

Saat kami mengobrol, beberapa tahanan dan pembezuk lain juga nampak akrab dengan Bang Iyek. Bahkan ada 2 orang pembezuk yang menyalami Bang Iyek sambil bungkuk, sampai2 Bang Iyek ngerasa gak enak hati.

Setelah 1 jam lebih, gua pamit pulang. Maunya sih terus sampai jam 4. Tapi badan gua udah gak kuat lagi. Mata gua udah mulai berkunang-kunang dan ngeliat Bang Iyek juga udah agak samar-samar.   

"Bang Iyek, saya permisi dulu ya."

"Oh ya. Terima kasih lho udah jauh-jauh dari Cengkareng."

"Alaah, ke Cinere aja saya bisa masa kesini saya gak bisa?"

"Hehe.."

"Maaf saya agak bingung mau ngobrol apa, Bang. Soalnya suasananya itu sih.. Mudah-mudahan kelak kita ketemu lagi dalam suasana yang berbeda."

"Iya, mudah-mudahan cepat beres lah."

"Saya udah 2 kali mimpi Bang Iyek bebas, syukuran terus naik haji lho (ini bener, bukan bohong)."

"Amiin.. Amiin.." jawab Bang Iyek sumringah sambil menangkupkan kedua telapak tangannya. Beliau lalu mengantar gua sampai terali, menyalami sambil menepuk2 bahu gua.

"Terima kasih banyak ya Asriat. Jangan lupa sampaikan salam dan terima kasih saya buat teman-teman."

"Pasti, Bang."

Setelah mengambil handphone di tempat penitipan, gua berjalan gontai menuju keluar.

"Semoga semua berjalan lancar buatmu, Bang." Doa gua dalam hati.

Tamat? Belum.

Di pos penjagaan pertama saat mengambil KTP, seorang petugas jaga bertanya:

"Gimana, pak? Udah ketemu Achmad Albar?"

"Udah."

"Terus titipan buat kita mana?"

Sempat terhenyak gua sebelum ngeh apa yang dimaksud dengan titipan tersebut.

"Kita kan udah panas-panasan jaga disini." Ucap petugas yang lebih muda yang berwajah ngganteng sambil pasang tampang cemberut.

Lha itu kan memang tugas lu, O-on… Bathin gua sambil merogoh kocek dan mengeluarkan Rp.20.000. Maunya sih ceban, tapi berhubung adanya cuma 20 ribu dan 50 ribuan ya yang 20 aja dah..

A-Hsu…

 
PS. Nggak semua obrolan gua dengan Bang Iyek bisa ditulis disini karena ada beberapa bagian yang off the record.

Ada Lagi Yang Mati..

November 9th, 2007 by asriat

Pagi tadi gua melayat ke trumah seorang ‘teman’ yang meninggal semalam. Kenapa gua pakai tanda kutip pada kata teman? Karena sebenarnya jika diukur dengan menggunakan standar gua, orang ini masih jauh dari teman. Mungkin lebih tepat kalau disebut kenalan. Masalahnya, dia hampir setiap hari ketemu gua karens setiap berangkat dan pulang ekrja, gua selalu melewati warung ibunyam tempat dia biasa nongkrong.

Ibunya bilang ada gumpalan darah beku di kepalanya, sehingga almarhum beberapa hari belakangan ini mengeluh pusing. Puncaknya 2 hari yang lalu dia semaput, akhirnya masuk RS Sumber Waras dan meninggal dunia.

Versi seorang kenalan yang gua ajak melayat lain lagi. Katanya itu efek dari penggunaan putaw dan jenis narkoba lain yang berkesinambungan. Mana yang betul, Wallahu Alam (walaupun gua lebih cenderung pada kemungkinan yang kedua).

Beberapa hari sebelumnya, seorang tetangga, Pak Baidur, meninggal karena stroke.

Inti cerita ini bukan pada orang-orang yang meninggal tadi, tapi pada perasaan aneh, dimana orang-orang yang gua kenal sejak kecil ini satu persatu meninggal. Ada satu perasaan yang nggak bisa gua lukiskan. Pertama gua rasakan saat seorang kenalan yang pernah sekelas semasa SMA dulu, Christian Coernia Abijoso yang juga kolega di tempat ngajar gua di Tangerang (beliau juga dosen UKRIDA), meninggal karena tabrakan dan beritanya masuk koran. Lalu teman yang duduk di depan gua (juga semasa SMA), Ramadhan Hendra yang akrab dipanggil Bentoet, meninggal karena tabrakan saat hendak menjemput istrinya.

Perasaan aneh itu benar-benar menggelayut dari pagi sampai tadi sebelum gua buka komputer, setelah pulang dari Carrefour.

Omong-omong, ini out of topic nih. Ada yang tau merek saus barbeque atau saus steak yang enak gak? Gua tadi beli yang merek Kraft tapi kok rasanya aneh gitu, mirip saus spaghetti. Mohon masukan dari teman-teman semua.

Wassalam,

Oom Jim

R.I.P

August 19th, 2007 by asriat

Kemarin, Blood Python piaraan adik gua akhirnya meninggal setelah beberapa hari bergelut dengan penyakit pencernaan yang akut. Puncaknya. Kemarin saat menelan 2 ekor marmut, ia kemudian memuntahkan keduanya lalu meninggal.

Mendengar berita ini, istri gua tentunya gembira, karena ular-ular python piaraan adik gua itu semua memang sering menjadi sumber masalah. Gua yang serba salah. Disatu pihak, istri senang, tentunya gua ikut senang. Dilain pihak, gua tau harga Blood Python itu dulu sekitar Rp.350 ribu. Adik gua membelinya dengan uang tabungan yang dikumpulkan dari gajinya yang tak seberapa itu. Ular itupun dengan telaten dia rawat. Setiap pagi dibiarkan berjemur, dan dimandikan dengan air rebusan daun sirih. Bahkan pas dikuburpun jenazahnya dia bungkus dengan kain putih (seperti dikafani). Tentunya gua bisa merasakan kehilangan dia, sama seperti kalau satu diantara piringan hitam Clover Leaf gua tau2 retak dan tak bisa dipakai lagi. Tentunya sangat nelangsa, mengingat PH2 tersebut gua rawat dengan sangat telaten.

Maka, dengan ini gua turut berduka cita atas kematian sang Blood Python. Semoga nasib yang sama tidak menimpa Kokita, ikan koki piaraan gua… Amin.

Rasanya Bertemu Idola…

July 22nd, 2007 by asriat

Bink_bank_bunk Oom_jim_dan_bang_iyek

Kemarin, hari minggu tanggal 22 Juli, menjadi satu hari bersejarah lagi buat gua. Di hari itu, gua bertemu dengan idola gua, Achmad Albar alias Bang Iyek. Sebenarnya ini adalah acara rutin KPMI (Komunitas Pelestari Musik Indonesia), yang setiap bulannya menghadirkan seorang artis/musisi legendaris Indonesia. Naaa.. kemarin adalah giliran Achmad Albar dan Ian Antono dari Godbless.

Wuah, nggak tergambarkan perasaan ini saat CD-CD Godbless dan piringan hitam Clover Leaf gua ditandatangani oleh beliau (dan juga Mas Ian Antono tentunya). Terlebih lagi bisa berfoto bareng bersama beliau. Tak kurang, istri guapun ikutan berfoto bareng.

Bhooty_dan_bang_iyek

Eh, tunggu… ada foto siapa lagi tuhh.. Ya tebak ajalah. Pasti sebagian besar dari teman-teman tau siapa tokoh yang satu ini..he…