Sore itu, Senin 7 Januari 2008, dengan tubuh lemas karena belum sembuh benar dari serangan virus influenza, gua duduk bersandar dalam salah satu ruang tahanan di Bareskrim Mabes Polri.
Sebelum duduk bersandar itu gua terlebih dulu harus melewati 3 pos penjagaan. Pertama, di pintu belakang, menitipkan KTP yang lalu ditukar dengan tanda pengunjung. Kedua, di depan gedung Bareskrim, tanda itu ditukar lagi dengan tanda lain.
Memasuki gedung Bareskrim, dalam sebuah ruangan kecil tepat di depan ruang tahanan, gua menulis lagi nama, alamat dan keperluan, lalu menitipkan handphone gua disana dan diberi nomor (nomor gua 08). Setelah itu seorang petugas membuka pintu terali kokoh berukuran besar dan mempersilakan gua masuk.
Setelah lemas gua mulai hilang, dari dalam salah satu ruangan muncul sesosok tubuh kurus tinggi berambut kribo, dibalut celana jins dan T-shirt biru. Ia membawa piring kotor bekas makan, lalu membungkuk di depan keran di tempat cuci dan mulai mencuci piring tsb.
Hati gua trenyuh melihat pemandangan ini. Sangat kontras dengan saat terakhir kami bertemu. Pelan, gua hampiri ia dari belakang dan gua tepuk bahunya.
"Bang Iyek, masih ingat saya? Asriat." Gua sengaja menyebut nama karena jujur gua takut beliau lupa.
Bang Iyek nampak terkejut melihat gua disitu. Ia tertegun sesaat sebelum melanjutkan, "Oh iya, Asriat Clover Leaf." Beliau buru2 melap tangannya dan menyalami gua. "Silakan tunggu dulu disitu, saya taruh piring dulu."
Gua lalu kembali ke tempat pertama gua duduk. Tak lama, beliau muncul sambil membawa sebungkus Marlboro lalu duduk disamping gua.
"Datang sama siapa?"
"Sendiri, Bang."
Lalu dimulailah obrolan itu. Tentang kasus yang menimpa beliau.Tentang kelanjutan album Godbless. Tentang dukungan dari teman-teman. Obrolannya sendiri tidak seluwes saat bertemu di kediaman beliau Cinere tempo hari. Pertama, mungkin karena beliau merasa rikuh dengan keadaan saat itu, karena jika sewaktu di Cinere posisi kami adalah penggemar dan idola, sedangkan saat ini adalah pembezuk dengan yang dibezuk. Kedua, mungkin beliau juga sedang stress, soalnya sebelum kami mengobrol, Bang Iyek sempat dipanggil penyidik.
"Kasusnya mungkin akan dipercepat. Yaa kemungkinan minggu ini." Katanya sewaktu gua tanyakan ada apa.
Ketiga, kondisi badan gua juga sebenarnya saat itu hanya 60% sehat. Walaupun begitu, gua nggak bisa lagi menunda kunjungan ini karena semakin menunda datang, hati gua semakin nggak enak dan nggak bisa tidur mengingat keadaan beliau.
Pertama gua sampaikan salam dari teman-teman (yang kebetulan di luar kota dan nitip salam untuk beliau via sms), lalu gua ceritakan juga dukungan dan simpati dari teman-teman. Sempat gua ceritakan tentang MPnya Wendy yang memajang tulisan "Free Albar". Beliau nampak senang, "Wah, terima kasih ya. Pokoknya sampaikan salam dan terima kasih saya buat anak-anak (mungkin maksudnya anak-anak muda) dan semua teman-teman yang udah mendukung."
Obrolan berikutnya mengenai pemberitaan di media massa. Raut wajah beliau nampak berubah agak keruh saat membicarakan soal ini.
"Wartawan itu ngaco, jual berita aja. Masa katanya saya bilang kalo kokain di kamar Fachri itu punya dia, mana mungkin? Kalaupun bener punya dia juga pasti saya bilang itu punya saya." (Persis seperti yang dikatakan beliau pada Denny MR dari Rolling Stone Indonesia).
Lalu saya tenangkan beliau dengan memberitahu bahwa teman-teman yang diwawancara juga memberikan dukungan terhadap beliau. Gua ceritakan saat Donny Fattah, Ian Antono, Oddie Agam dll diwawancara.
"Kalo pas mas Jockie saya nggak liat, Bang. Karena waktu itu wawancaranya malam."
Tapi nampaknya beliau juga sudah tahu apa yang dikatakan mas Jockie. Mungkin dari teman-temannya yang lain. Beliau cuma ngomong singkat, "Wah, dia benci banget ya sama gua."
Saat obrolan terhenti beberapa detik, gua mengeluarkan buku "MUSISIKU" dari dalam tas lalu menyerahkannya pada beliau.
"Ini, Bang. Buat baca-baca aja."
"Wah, kapan terbitnya nih?"
Lalu gua ceritakan sejarahnya buku itu. Termasuk siapa-siapa aja yang menyusun. Beliau langsung membuka plastik segel buku tersebut lalu membalik2 halamannya.
"Sayang foto2nya hitam putih semua, Bang. Mungkin untuk menghemat biaya cetak."
Setelah tiba pada bagian Clover Leaf dan Godbless beliau berhenti dan mengamati. Terutama pada bagian filmografinya Godbless.
"Terima kasih ya. Nanti saya baca-baca ah."
Obrolan lanjut lagi.
"Yang paling sering kesini sih Yan sama Mia. Yan bisa tiap 2-3 hari mampir kesini. Dia juga lagi ngumpulin materi tuh buat Godbless. Waktu itu Achmad Dhani juga pernah, terus gitaris-gitaris juga pada kesini."
"Kata Mas Yan ‘pas tinggal take vokal kalo perlu Iyek saya culik’. Saya baca di Rolling Stone yang tempo hari kesini."
Bang Iyek nyengir mendengar kutipan omongan mas Yan.
"Wah, artikelnya udah keluar ya? Saya malah belum baca tuh."
"Nanti saya bawakan, Bang."
"Oh, nggak..nggak usah. Nanti biar saya minta tolong Mia aja."
"Katanya nggak mau bawain lagu Clover Leaf? Kenapa Bang?"
"Haha.. terlalu ngepop ah."
Sayangnya beliau juga tak bisa memastikan soal album Godbless ini. Jelas karena ada persoalan lebih penting yang membentang di hadapan beliau sekarang. Walau tetap berusaha tenang, nampak gurat-gurat kegalauan di wajah Bang Iyek.
Mendadak Bang Iyek berdiri. "Omong2 dari tadi nggak dikasih suguhan nih. Minum ya?" Beliau langsung ngeloyor ke dalam tanpa menunggu jawaban gua, lalu kembali dengan sekaleng Pocari Sweat.
Salah seorang pembezuk tahanan lain yang nampaknya juga sudah kenal dengan Bang Iyek, berbicara dari bangku seberang:
"Enak dong nih tahanan disini bisa dihibur sama suara Bang Yek."
"Wah, suara saya fals nih. Nggak bisa nyanyi kalo disini. Stress." Balasnya sambil senyum.
"Saya paling stress dan terpukul waktu Ai (Fachri) ikutan kena. Alhamdulillah dia nggak apa-apa."
"Itu juga nggak jelas tuh, Bang. Pertama katanya 1.3 gram. Lalu 0.3, terakhir 0.13. Bisa ganti2 gitu ya?"
Bang Iyek mengangkat bahu.
"Enggak taulah. Pas pemeriksaan pertama itu kan nggak ditemukan apa-apa. Tau2 pas pemeriksaan kedua nongol aja tuh inex dan kokain."
Saat kami mengobrol, beberapa tahanan dan pembezuk lain juga nampak akrab dengan Bang Iyek. Bahkan ada 2 orang pembezuk yang menyalami Bang Iyek sambil bungkuk, sampai2 Bang Iyek ngerasa gak enak hati.
Setelah 1 jam lebih, gua pamit pulang. Maunya sih terus sampai jam 4. Tapi badan gua udah gak kuat lagi. Mata gua udah mulai berkunang-kunang dan ngeliat Bang Iyek juga udah agak samar-samar.
"Bang Iyek, saya permisi dulu ya."
"Oh ya. Terima kasih lho udah jauh-jauh dari Cengkareng."
"Alaah, ke Cinere aja saya bisa masa kesini saya gak bisa?"
"Hehe.."
"Maaf saya agak bingung mau ngobrol apa, Bang. Soalnya suasananya itu sih.. Mudah-mudahan kelak kita ketemu lagi dalam suasana yang berbeda."
"Iya, mudah-mudahan cepat beres lah."
"Saya udah 2 kali mimpi Bang Iyek bebas, syukuran terus naik haji lho (ini bener, bukan bohong)."
"Amiin.. Amiin.." jawab Bang Iyek sumringah sambil menangkupkan kedua telapak tangannya. Beliau lalu mengantar gua sampai terali, menyalami sambil menepuk2 bahu gua.
"Terima kasih banyak ya Asriat. Jangan lupa sampaikan salam dan terima kasih saya buat teman-teman."
"Pasti, Bang."
Setelah mengambil handphone di tempat penitipan, gua berjalan gontai menuju keluar.
"Semoga semua berjalan lancar buatmu, Bang." Doa gua dalam hati.
Tamat? Belum.
Di pos penjagaan pertama saat mengambil KTP, seorang petugas jaga bertanya:
"Gimana, pak? Udah ketemu Achmad Albar?"
"Udah."
"Terus titipan buat kita mana?"
Sempat terhenyak gua sebelum ngeh apa yang dimaksud dengan titipan tersebut.
"Kita kan udah panas-panasan jaga disini." Ucap petugas yang lebih muda yang berwajah ngganteng sambil pasang tampang cemberut.
Lha itu kan memang tugas lu, O-on… Bathin gua sambil merogoh kocek dan mengeluarkan Rp.20.000. Maunya sih ceban, tapi berhubung adanya cuma 20 ribu dan 50 ribuan ya yang 20 aja dah..
A-Hsu…
PS. Nggak semua obrolan gua dengan Bang Iyek bisa ditulis disini karena ada beberapa bagian yang off the record.