Archive for August, 2006

Proyek Prestisius

Saturday, August 26th, 2006

Tadi barusan gua pinjam bass gitar punya tetangga.

Iseng-iseng aja sih buat ngisi bass beberapa drum track dari lagu2 kacangan yang sedang gua bikin. Rencananya sih mau dijadiin satu album, gitu. Semua alat musik gua yang mainin. Tapi ternyata capek juga ya? Barusan ngisi bass + rythm gitar udah pegel banget nih badan. Tadinya mau sekalian gua isi lead-nya, cuma jari2 tangan ini udah lemes.

Ya udah sebagai selingan gua nonton Arsenal VS Manchester City di TV7.

Mungkin nanti gua kelarin ngisi bass satu lagu lagi, mumpung belum ditagih yang punya..

Dongximen web-site

Saturday, August 12th, 2006

Ya..ya..

Setelah menunggu lama, kini teman-teman semua yang ingin bernostalgia mendengarkan lagu-lagu The Doors bisa langsung ke dongximen.multiply.com dan menikmati musik psychedelic ala Dongximen sambil ngegelek.

Dua mp3demo dari formasi awal mereka (1995-1997) + tiga mp3 demo dari formasi 1999 - 2003 tersedia untuk dinikmati.

Enjoy The Psychedelic Experience!

It’s A Cat’s Cat’s Cat’s World

Thursday, August 3rd, 2006

Serial Kampung Dosa

Eps.1

“It’s a cat’s cat’s cat’s world”

Pemeran:

  1. Poehoe si kucing mbok

  2. Bur si kucing babe

  3. Bopy dog dog

  4. Twiti

  5. Snakes

     Suatu hari di bulan Desember.

     “Gaswat! BBM naik hampir 100%!!” Teriak Bur sambil berlari memasuki halaman rumah.

     “Biar aja. Itu mah urusan bos manusia atuh, bukan urusan kita.” Timpal Poehoe yang sedang leyeh-leyeh di halaman rumah bersama anak dan temannya, Bopy dog dog.

     “He. Jangan bilang biar aja biar aja. Kita pasti kena imbasnya tauk!” Balas Bur dengan nada tinggi.

     Poehoe menatap suaminya itu dengan heran. Otaknya yang kecil itu tak mampu mengerti kenapa kenaikan BBM bisa berimbas pada kehidupan kucing-kucing.

     Merasa kalau istrinya tidak menangkap arah pembicaraan, Bur memperjelas ucapannya:

     “Gini lho. Dulu itu asal lu tau aja, gua itu tiap hari makan Whiskas.”

     “Apa itu Whiskas?” Tanya istrinya bingung. Tadinya Bur mendongkol dengan pertanyaan ini, tapi setelah memaklumi bahwa istrinya hanya kucing kampung, Bur lalu menjelaskan dengan sabar:

     “Whiskas itu makanan kaleng khusus buat kita-kita ini. Harganya mahal dan belinya juga nggak bisa sembarangan, hanya bisa  dibeli di Supermarket besar atau Pet Shop, alias toko yang khusus menjual binatang atau makanan binatang. Nah, Whiskas itu ada 3 rasa, ikan, daging sapi campur kambing dan babi. Nah gua dulu sering makan yang rasa ikan dan daging. Kata bos gede jangan makan yang babi. Haram.”

     Poehoe mulai menangkap ucapan suaminya itu walau tetap ada istilah-istilah yang membuatnya bingung.

     “Aku pernah makan Whiskas.” Bopy menyela.

     “Mana mungkin, Whiskas itu kan makanan khusus kucing. Gambarnya aja gambar kucing.” Balas Bur dengan nada tidak percaya.

     “Betul kok. Waktu itu Bos gede salah beli. Dia beli yang rasa babi, terus dikasih ke aku.”

     Bur kesal sekali. Kenapa dikasih ke Bopy? Bathinnya. Padahal Bopy kan cuma kadang-kadang aja main kesitu. Majikan aja dia nggak punya. Lagian Bur sangat kepingin sekali mencicipi daging babi. Menurut cerita kucing milik ngkoh Boen Khiap, tetangga, daging babi itu rasanya lezat. Lebih lezat dari daging sapi dsb. Namun segera Bur kembali ke pokok persoalan.

     “Nha.. setelah kenaikan BBM yang pertama dulu, bos gede tuh udah nggak pernah beli Whiskas lagi. Gantinya sarden. Uuh.. tiap hari makan ikan terus. Bosann!! Kadang-kadang aja dapat daging sisa makan bos.”

     “Nggak boleh gitu. Kangmas harus tetap bersyukur masih bisa makan ikan. Lha aku itu sebelum kawin sama kangmas boro-boro makan ikan. Dapat nasi basi dari bak sampah aja udah bersyukur. Baru kali ini saja setelah kawin dengan kangmas aku bisa makan nasi ikan tiap hari.”

     “Iya. Tapi kan sekarang ikannya ikan cuwe. Dulu mana pernah makan gituan. Ini juga sejak bos gede nikah. Katanya karena kenaikan harga gas baru-baru ini, demi penghematan, nyah gede mengeluarkan kebijakan baru. Sarden diganti ikan cuwe. Sebeeelll!!”

     “Masih untung kamu Bur, bisa makan nasi ikan tiap hari. Coba kayak aku nih yang nggak punya bos. Puyeng. Mau nyari makan di blok sebelah, anjingnya gede-gede, galak dan pelit. Makanan sedikit aja mereka nggak mau berbagi, padahal sama sebangsa. Makanya aku sih lebih senang main sama kalian.” Ucap Bopy, menasehati.

     Bur seakan tak mendengar ucapan anjing kecil itu.

     “Nha, isunya nanti BBM bakal naik lagi sekitar 30%. Mau diganti sama apa lagi nih ikan cuwe? Bisa-bisa kita tiap hari makan nasi sisa. Hii.. amit-amit!”

     Poehoe menatap suaminya itu sambil geleng-geleng kepala. Ia dan suaminya memang berbeda. Suaminya dari bayi memang sudah dipelihara bos gede. Tinggal di dalam rumah dan makanan selalu disiapkan. Makan tikuspun dia sama sekali nggak pernah. Jijik, katanya. Makanya sang suami terpukul sekali ketika bos gede menikah. Bukan apa-apa. Ternyata istri bos gede alergi bulu kucing sehingga Bur sekarang terpaksa harus pindah ke beranda rumah. Ia sendiri dari kecil sudah ditinggal simbok dan terbiasa hidup menggelandang. Makan nasi basi, cecak, kadal dan tikus sudah biasa buatnya. Tidur diluarpun nggak masalah. Bahkan ia masih bersyukur sekarang bisa makan nasi ikan dan punya tempat tinggal tetap. Makanya ia juga akrab dengan Bopy yang sama-sama hewan susah. Padahal Bopy adalah seekor anjing.

     “Sst.. udah tau belum. Sekarang di dalam rumah ada penghuni baru lagi.” Bisik Bopy.

     “Siapa dia?” Tanya Bur penasaran.

     “Kurang tau ya. Kemarin sore bos cilik membawanya dalam karung terigu.”

     “Oh, itu aku udah liat. Nggak tau apa itu. Bentuknya panjang berwarna seperti kain batik milik nyah gede.” Ucap Poehoe.

     “Ha! Itu kan ular!” Bur terperanjat. Pengetauannya memang cukup luas karena dulu waktu masih tinggal di dalam rumah ia sering nonton TV bersama bos.

    “Ular? Apalagi itu?”

    “Pokoknya itu binatang berbahaya. Nggak bisa bicara dan nggak punya otak. Makannya pun binatang hidup, ditelan bulat-bulat.” Bur bercerita dengan mimik diseram-seramkan.

     “Hii.. apa kita juga bisa dimakan?” Tanya Poehoe gemeteran.

     “Bisa aja, soalnya ular itu ada yang panjangnya bisa seberanda rumah ini.”

     “Ah ngibul. Setau aku ular itu panjangnya paling cuma sepuntung rokok dan nggak berbahaya. Paling bisa menyebabkan gatal-gatal.” Bopy menyela.

     Bur menghela napas. “Itu ulat, bodoh.”

     “Oh, beda tho?”

     Bur tak menjawab. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sesosok mahluk aneh yang meloncat dari jendela yang terbuka.

     “Tolong. Tolongin gwa..” Mahluk itu kecil dan berwarna kuning.

     “Apa dan siapa kamu!” Bentak Bur sambil melompat mundur. Sementara Poehoe dan Bopy menatap curiga pada mahluk aneh ini.

     “Gwa pitik. Nama gwa Twiti. Tolongin gwa, gwa mau diumpankan ke dalam kandang ular.”

     “Wah, sadis!” Bopy berkata sambil mengelus dada.

     “Teman-teman gwa semua sudah pada mati. Untung aja gwa berhasil kabur karena kardus tempat menyekap kami tadi terbuka.”

     “Ini pasti kerjaan bos cilik. Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Bur kepada Poehoe dan Bopy.

     “Bos cilik pasti bakal keliling mencari kamu. Ya sudah, kamu ikut ke tempat kami saja, di rimbunan pohon pisang di kebun belakang. Bos kecil kan nggak pernah kesitu. Tapi kamu harus diam, nggak boleh mengeluarkan suara apapun, ngerti?” Akhirnya Poehoe berhasil menemukan sebuah solusi.

     Twiti mengangguk sambil gemetaran, lalu berjalan mengikuti Poehoe, anaknya dan Bopy menuju tempat pengungsian, rimbunan pohon pisang di kebun belakang. Sementara Bur tetap diam di beranda. Ia nggak habis pikir, di tengah krisis keuangan yang melanda bos, yang mengakibatkan berkurangnya mutu jatah makanan buat  keluarga Bur, ternyata bos kecil masih mampu beli ular dan mengeluarkan biaya buat beli pitik makanan ular. Namun dibalik rasa heran Bur itu tiba-tiba muncul optimisme. Kalau bos kecil aja masih mampu beli ular, mudah-mudahan bos gede juga masih mampu beli Whiskas. He-he.. Bur tersenyum-senyum sendiri lalu bangkit dan berjalan menyusul ke rimbunan pohon pisang.

                ==========  Tamate ============

 

Wednesday, August 2nd, 2006

Ya..ya..

Secangkir susu coklat anget, sebatang jisamsu dan The Stone Roses.

Ternyata masih ada cara untuk menikmati hidup..