Archive for September, 2006

Tuesday, September 19th, 2006

Wah..wah..

Hari ini gua kagak masuk kerja. Tepar. Badan tua ini rupanya enggak kuat lagi digeber kayak dulu. Kemarin gua mengajar pindah-pindah. Pagi jam 08.30-10.00 di ruko gua, lalu dilanjut pukul 11-13.00 di UNTAR. Jam 14-15.30 mengajar orang kecamatan yang mau privat mandarin (di Kantor Kecamatan Cengkareng). Terakhir jam 16.30-18.30 di UNTAR lagi. Pulang-pulang badan ini serasa mau remuk. Ya udah gua mandi air hangat terus tidur. Eeeh.. paginya badan terasa nggak enak banget. Ya dengan berat hati gua putuskan untuk tidak mengajar, demi keamanan kita bersama..he..he.. Soalnya hari kamis ini jadwal juga padat.

Aneh kalo gua pikir2. Dulu gua bersama Agung, Eko, Mia Jerman 94 kuat aja keliling-keliling Depok - Blok M. Ehm, tapi pernah juga sih kejadian pas makan di American Hamburger perut gua mendadak nggak enak banget sampe keluar keringat dingin. Tapi itu nggak seberapa dibanding sekarang ini.

Yah, mungkin kurang olah raga nih. Udah waktunya kali gua mulai renang lagi. Habis mau main golf nggak ada temen, Yusuf Kalla dan Ical Bakrie gua telpon sibuk melulu..he..ha.. Apalagi Ical tuh, lagi poejeng 17 keliling. Makanya Cal, jangan suka mainan lumpur..

Enak banget nih lagu…

Tuesday, September 19th, 2006

Coba deh dicari nih lagu satu ini. Uenak tenan. Beberapa minggu ini udah masuk regular playlist gua. Model2nya pop 60an gitu dengan sentuhan organ farfisa.Dari band bernama Inspiral Carpets.

Judas’s friends have got so strong
It’s through the way they made you carry someone else’s wrong
I’ve seen the way he ties you down
To Blind Man’s Bluff in a bridal gown

SO YOU BEAT HIM AT HIS GAMES (YOU BEAT HIM AT HIS GAMES)
SO HE HAD TO CHANGE THE RULES, PLEASE BE CRUEL

Every word that’s spoken’s ringing in your ears
This light we look upon has gone and passed a thousand years
He says you’re mutton dressed as lamb, but he’s a vegetarian

SO YOU LIVE TO FIGHT ANOTHER DAY (TO FIGHT ANOTHER DAY)
YOU GET WEAKER EVERY WAY, PLEASE BE CRUEL

’cause you’re a woman who needs persuading (needs persuading)
Never needed anybody (anybody)
To affect this change your life so badly needs (so bad)

Judas’s friends have got so strong
It’s through the way they made you carry someone else’s wrong
I’ve seen the way he ties you down
To Blind Man’s Bluff in a bridal gown

SO YOU BEAT HIM AT HIS GAMES (YOU BEAT HIM AT HIS GAMES)
SO HE HAD TO CHANGE THE RULES, PLEASE BE CRUEL
OH PLEASE BE CRUEL, OH PLEASE BE CRUEL, DON’T KNOW IF I SHOULD
(PLEASE BE CRUEL, PLEASE BE CRUEL, PLEASE BE CRUEL)

Apalagi sambil ngegelek. Tuambah nikmuatt..

Jalan Sang Maha Jaya

Monday, September 11th, 2006

Pagi ini iseng gua baca postingan Dewi soal Berani bermimpi dan Berbagi Mimpi (kalo gak salah menerjemahkan ya). Wah kalo soal bermimpi, mimpi gua untuk menjadi seorang musisi profesional udah kandas, dan sekarang malah jadi guru. Jujur, pertama memang kesal berat. Gimana nggak? Dulu tinggal selangkah lagi masuk AnTV eh gagal. Dalam kerjaan gua juga selalu gagal bila melamar ke perusahaan. Katanya standar gaji yang diminta ketinggian. Gimana nggak tinggi, lha wong kerja sampai sabtu dengan jam kerja 10 jam sehari (senin-jumat) dan kalo sabtu sampai jam 13.00. Anehnya tiap melamar jadi guru pasti langsung diterima tanpa banyak cing-cong, sampai sekarang ini gua galau sendiri ngatur jadwal (maklum semester baru, jadwal juga baru).

Namun beberapa tahun ini gua mulai mensyukuri profesi gua sebagai guru. Mungkin ini memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa dan sudah merupakan jalanNya. Kebayang deh gua yang malas beribadah dan sukar menahan godaan ini kalau menjadi artis, wah pasti panen tuh infotainment. Dan pastilah itu merupakan tiket searah menuju neraka buat gua.

Menjadi guru itupun prosesnya nggak bertele-tele. Tahun 98 saat krismon pasca kerusuhan Mei, gua yang lagi nganggur (perusahaan garmen tempat gua kerja selama 2-3 bulan habis dibakar massa, padahal waktu itu aja gaji pertama gua sebagai pegawai baru udah 1,8 juta sebulan), gua diajak Yohanes ‘90 untuk gantiin Ari(anto Suroyo) di LEPISI, Tangerang (sampai sekarang juga gua masih setia di tempat itu). Beberapa bulan disitu, datang tawaran dari Ibu Christine untuk mengajar di Atmajaya, lalu dari Ibu Ira dan Pak Albert untuk mengajar di LPPT UNTAR. Setelah itu dari tabungan selama ini, gua membuka tempat kursus sendiri di dekat rumah (Komplek ruko Palm), yang walaupun belum sukses tapi memiliki murid-murid yang setia dan masih berjalan sampai sekarang.

Belakangan iseng nyoba lagi apply di PERBANAS dan TLC YAI, eh diterima juga. Alhamdulillah.

SJadi ya sekarang gua jalanin ajalah profesi gua ini dengan baik. Memang sebagai guru, jauhlah jalan gua untuk menjadi kaya punya mobil bagus rumah gedong. Tapi paling nggak jiwa dan pikiran gua tentram. Juga ada kenikmatan yang nggak bisa dinilai dengan uang seperti misalnya waktu itu ada seorang anak didik gua yang nerusin belajar ke BLCU, dan pas pulang bilang, "Makasih ya pak, kalo nggak karena bapak, saya mungkin ngga pernah punya niat buat serius belajar mandarin." Wah, itu sebenernya gua terharu banget ngedengernya, tapi ya paling cuma jawab, "Ya, sekarang kan kamu udah jago, tolong ilmunya dimaanfaatkan dengan baik." Ya supaya gua juga ikut mendapat pahala dari sana. Hal-hal seperti ini menurut gua nilainya lebih dari gaji jutaan. Cuma ya ada stressnya juga, misalnya kalo semester baru kaya sekarang aja nih, jadwal pada bentrok..he..he..

Sekar Who Saves The Day

Thursday, September 7th, 2006

Ya..ya..ya.. Di hari yang panas ini kembali gua ketak-ketik kaga jelas. Istri tercinta hari ini (sore) berangkat ke Purwokerto untuk menghadiri Pesta Ulang Tahun Perkawinan ayah dan ibunya yang ke 50 (kawin emas). Gua sendiri kaga bisa ikut karena harus mengajar di beberapa tempat sampai sabtu.

Hari ini, di YAI ada perpisahan buat para wisudawan-wisudawati pelatihan Bahasa Mandarin, Inggris dan Jepang. Gua sebagai instrukturnya tentu harus datang menemani anak-anak asuh gua yang mentalnya masih belim pulih akibat down setelah diinterogasi oleh I-I sang native speaker (lihat posting gua sebelumnya).

Sempat ragu juga memilih siapa yang harus maju membaca kata sambutan kesan-dan-pesan dalam bahasa mandarin. Ada Laila yang kuat di tingli, baca, tapi agak lemah di pronounciation. Ada I-I (ini I-I yang laen lagi, bukan yang native speaker) yang lumayan pinter tapi gampang nervous. Ada juga Anita yang lumayan bagus di tingli, tulisan juga lumayan rapi, bisa baca, namun lagi-lagi mentok di pronounciation. Bukannya jelek sih. Bagus. Tapi karena kata sambutan tersebut banyak berisi kata-kata yang agak sulit pengucapannya, maka gua harus memilih denga ekstra hati-hati.

Beruntung ada Sekar. Pernah belajar bahasa mandarin sebentar, dia cukup kuat di fayin dan tingli. Akhirnya ya gua minta dia yang baca.

Beberapa kali latihan, masih ada beberapa kata yang meleset sedikit.

Hari H, di aula fakultas psikologi lt.10.

Perpisahan untuk wisudawan/wati ini ternyata cukup mewah. Ada band segala. Pelatihan Mandarin kebagian giliran pertama membaca kata sambutan.

Maka majulah Sekar dengan Iswahyudi sang penterjemah. Deg-degan juga. Tapi untungnya dia bisa melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Bahkan kata pejabat teras YAI, mirip pembaca metro xinwen. Ya Alhamdulillah.

Tinggal satu. Dari pelatihan Jepang anak-anaknya pada menyajikan atraksi koor theme song Dora Emon. Tinggal siapa yang maju dari pelatihan mandarin.

Ya ini cukup gua aja. Dengan modal nekat dan sebuah gitar elektrik, gua mengajak drummer dan bassis band tersebut yang sosoknya mengingatkan gua pada Bapak Arianto Suroyo, teman gua di Sastra Cina FSUI dulu. Maka mengalirlah sebuah jam session yang bluesy. Spontan. Ganas.

Nggak nyangka setelah tahunan nggak megang gitar, masih bisa juga gua bermain seperti itu. Memang blues itu kaya berenang sih. Kalo udah bisa pasti kagak bakal lupa. Tinggal ngejaga biar jangan tenggelam aja.

Ya. Sekar saves the day. Blues saves the day too.

Terima kasih buat semua murid-murid gua di pelatihan komunikasi Bahasa Mandarin. You guys rules!

Untung ada I-I

Tuesday, September 5th, 2006

Sabtu lalu (2 september) adalah hari ujian mandarin di YAI, berdasarkan instruksi Boss, ternyata yang nguji jangan pengajarnya, melainkan orang lain. Wah kelimpungan juga gua nyari. Untungnya gua mendadak teringat seorang rekan yang tinggal di Kramat Kwitang, berinisial I-I. Akhirnya gua minta tolong beliau aja untuk nguji anak-anak. Wah anak-anak pada stress berat ngeliat I-I ini, Native abiss bow! Kata mereka. Dan saking groginya menghadapi I-I, beberapa murid yang biasanya pinter mendadak jadi gelagepan.

Pulangnya sempat makan siang bareng sama I-I ini, dan dia cerita katanya pas di USA, diajarin bikin somay sama T-T. Hayoo.. siapakah I-I dan T-T ini?

Do it yourself

Tuesday, September 5th, 2006

Ya..ya..ya..

Minggu ini benar-benar menjadi minggu yang asoy geboy. Setelah beberapa hari berkutat dengan komputer, bass, keyboard, drum dan gitar, akhirnya gua berhasil menyelesaikan sebuah lagu yang 100% musisinya adalah gua sendiri. Semalam gua puyeng ngisi track keyboard (berhubung Farid Manzarek tinggal di Tebet yang jauh sekali dari Sin City, terpaksalah gua dengan kemampuan ber-keyboard ria yang cekak, beraksi sendiri). Setelah itu pagi tadi ngisi rythm gitarnya. Rencana ini mau dijadiin CD backing dulu, sebelum gua mengisi track vokal dan lead gitarnya.

100% Doors influenced-psychedelic-shit. Nggak nyangka kalo itu gua semua yang bikin..he…he.. When there’s a will there’s a way.