Ya..ya..ya.. Di hari yang panas ini kembali gua ketak-ketik kaga jelas. Istri tercinta hari ini (sore) berangkat ke Purwokerto untuk menghadiri Pesta Ulang Tahun Perkawinan ayah dan ibunya yang ke 50 (kawin emas). Gua sendiri kaga bisa ikut karena harus mengajar di beberapa tempat sampai sabtu.
Hari ini, di YAI ada perpisahan buat para wisudawan-wisudawati pelatihan Bahasa Mandarin, Inggris dan Jepang. Gua sebagai instrukturnya tentu harus datang menemani anak-anak asuh gua yang mentalnya masih belim pulih akibat down setelah diinterogasi oleh I-I sang native speaker (lihat posting gua sebelumnya).
Sempat ragu juga memilih siapa yang harus maju membaca kata sambutan kesan-dan-pesan dalam bahasa mandarin. Ada Laila yang kuat di tingli, baca, tapi agak lemah di pronounciation. Ada I-I (ini I-I yang laen lagi, bukan yang native speaker) yang lumayan pinter tapi gampang nervous. Ada juga Anita yang lumayan bagus di tingli, tulisan juga lumayan rapi, bisa baca, namun lagi-lagi mentok di pronounciation. Bukannya jelek sih. Bagus. Tapi karena kata sambutan tersebut banyak berisi kata-kata yang agak sulit pengucapannya, maka gua harus memilih denga ekstra hati-hati.
Beruntung ada Sekar. Pernah belajar bahasa mandarin sebentar, dia cukup kuat di fayin dan tingli. Akhirnya ya gua minta dia yang baca.
Beberapa kali latihan, masih ada beberapa kata yang meleset sedikit.
Hari H, di aula fakultas psikologi lt.10.
Perpisahan untuk wisudawan/wati ini ternyata cukup mewah. Ada band segala. Pelatihan Mandarin kebagian giliran pertama membaca kata sambutan.
Maka majulah Sekar dengan Iswahyudi sang penterjemah. Deg-degan juga. Tapi untungnya dia bisa melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Bahkan kata pejabat teras YAI, mirip pembaca metro xinwen. Ya Alhamdulillah.
Tinggal satu. Dari pelatihan Jepang anak-anaknya pada menyajikan atraksi koor theme song Dora Emon. Tinggal siapa yang maju dari pelatihan mandarin.
Ya ini cukup gua aja. Dengan modal nekat dan sebuah gitar elektrik, gua mengajak drummer dan bassis band tersebut yang sosoknya mengingatkan gua pada Bapak Arianto Suroyo, teman gua di Sastra Cina FSUI dulu. Maka mengalirlah sebuah jam session yang bluesy. Spontan. Ganas.
Nggak nyangka setelah tahunan nggak megang gitar, masih bisa juga gua bermain seperti itu. Memang blues itu kaya berenang sih. Kalo udah bisa pasti kagak bakal lupa. Tinggal ngejaga biar jangan tenggelam aja.
Ya. Sekar saves the day. Blues saves the day too.
Terima kasih buat semua murid-murid gua di pelatihan komunikasi Bahasa Mandarin. You guys rules!