Archive for October, 2006

Please be cruel..

Tuesday, October 31st, 2006

Baru aja gua pulang dari Purwokerto, setelah berada disana selama kurang lebih 10 hari. Banyak kejadian unik yang gua alami. Mulai dari yang mengharukan, kocak sampe yang serem.

Yang mengharukan tentunya momen setelah sholat ied. Biasanya di Jakarta, setelah sholat ied paling-paling sungkem sama nyokap bokap, minal aidin sama adik gua, nongkrong di rumah, nungguin tetamu sekomplek pada keliling, terus cabut ke T.A. Sodara-sodara yang dateng memang lumayan banyak, tapi nggak seheboh tetangga-tetangga lain. Maklum keluarga nyokap kan Tionghoa, jadi paling2 yang sodara deket aja yang dateng. Sedangkan sodara bokap sebagian besar ada di Brastagi.

Hari kedua biasanya Joe Cool alias Joe-Wono suka mampir dan kita cabut lagi berdua. Ya.. itu adalah masa-masa sebelum gua menikah.

Setelah menjalani kehidupan sebagai pria beristri, tentunya otomatis sekarang gua memiliki mertua. Dan karena istri berasal dari Purwokerto, otomatis pulalah setiap Idul Fitri gua menemani istri pulang untuk menengok kedua orangtuanya. Dan otomatis juga gua ikutan sungkem.

Cara sungkemnya juga beda dengan gua di rumah. Setelah sholat ied, Bapak dan Ibu (mertua) duduk di kursi, dan anak-anak beserta menantunya (dari yang paling tua) satu demi satu sungkem memohon maaf sambil minta doa restu. Wah.. mengharukan juga.

Pengalaman kocak tentunya berkumpul dengan keponakan2 yang cuma ketemu gua setahun 1-2 kali. Ya kocak-kocak anak kecil gitulah. Semua dipanggil dengan sebutan pakde, paklik, cuma gua aja dipanggil Oom..

Pengalaman unik adalah saat dolan ke tempat temen gua yang juga adalah kolektor musik-musik lawas (Piringan hitam, kaset, CD, reel to reel tape, film 8mm dsb). Wah kalau sudah disana bisa lupa waktu. Beliau ini kan rencana mau bikin blog, jadilah gua bantu2 memotret sedikit koleksi beliau, sekaligus ngebantu bikin blog-nya.

Ada juga pengalaman main ke Sanggar Musik S’nang asuhan Bpk.Ronny Sinaga. Meskipun usianya baru sebulan, nampak kalau Sanggar Musik ini berkembang lumayan pesat. Banyak peserta les dari tempat-tempat lain yang pada pindah kesini. Mungkin karena biayanya yang relatif murah. Mungkin karena metode pengajarannya mirip dengan Farabi, dimana peserta les diarahkan untuk menjadi player yang berafiliasi ke jazz. Mungkin juga karena pendekatan mengajarnya yang akrab dan luwes. Sempat ngobrol juga dengan Pak Ronny yang friendly ini (yang rupanya dulu sempat main rock juga di Medan).

Ada juga pengalaman aneh, seorang temen gua sms mengucapkan minal aidin..eh..ternyata setelah beberapa kali bales2an sms dia juga ada di Purwokerto. Sayang nggak sempat ketemuan karena kesibukan masing-masing dan karena padatnya acara.

Pengalaman serem? Oh..ada..

Tentunya udah pada tau kan mengenai kecelakaan di jembatan gantung baturaden? Nah, beberapa hari setelah itu gua kesana untuk memotret jembatan maut tersebut. Mendadak gua ngeliat sesosok bocah perempuan berumur kira2 10 tahunan mengenakan rok terusan warna kuning lagi berdiri di jembatan tersebut. Gua bilang ke orang: "Mas, itu bilangin dong, nanti jatuh." Eeh, si mas malah kebingungan karena katanya ngga ada siapa-siapa disitu. Pas gua liat lagi..emang bener ngga ada siapa-siapa. Ya gimana ya? Percaya nggak percaya sih sama hal-hal begini..

Ehm, mungkin ada yang nanya juga: "Kenapa kok judulnya Please Be Cruel? Apa hubungannya sama posting ini?"

Ya ngga ada sih. Gua lagi demen aja sama lagu Inspiral Carpets yang satu ini. Di Kereta dan selama di Purwokerto lagu ini selalu menemani gua.

Enak benerr..

Akhirnya dirilis juga…

Thursday, October 12th, 2006

Haloo pengyoumen,

   Akhirnya-akhirnya, setelah melalui proses remastering oleh Agus Kalibaroto selama sebulan, double CD Dongximen - A Tribute To The Doors resmi dirilis dibawah naungan High Times Records dan Kalibaroto Production.

   Ini temen gua yang namanya Agus memang TOP berat. Bayangin aja! Demo tape latihan yang umurnya udah 12 tahun dan direkam hanya menggunakan walkman bisa kedengeran lumayan bagus.

   Seneng aja akhirnya bisa mendengarkan perjalanan ngeband gua memainkan lagu-lagu The Doors selama ini. Ada fase dimana gua masih menjadi vokalis (1996-1998) dengan formasi Farid Manzarek, Ari Suroyo, Maik dan Gupta - ini diwakili tiga lagu: Soul Kitchen, Light My Fire dan People Are Strange. Wah, luar biasa rasanya mendengar kembali petikan gitar ala Pat Metheny dari Gupta nyelonong di tengah Light My Fire. Juga tangannya Maik yang ngga bisa tenang, fill in melulu..he..he.. Atau permainan bass Ari yang efektif dan ngebarengin alur gilanya Maik..he..ha.. Ngga kerasa itu udah 10 tahun lalu.

   Terus ada fase dimana Dongximen tinggal bertiga, gua merangkap sebagai gitaris, dengan adik gua menggantikan Maik, serta Farid Manzarek tetap di seksi keyboard.

   Ada lagi nih, Live di FSUI taun 2000 yang direkam di walkman oleh my brother Agung CW. Seru juga ngedenger interaksi antara gua dan yang nonton pada waktu itu:

Agung : "Light my fire At!"

Aat : "Nanti itu belakangan ya?"

Agung: "Wahaha.. Busukk!!"

   Nih bacot si Agung CW jelas banget sepanjang 4 lagu itu. Belum lagi teriakan para penonton cewe yang jelas banget ditujukan ke Farid, sang keyboardis:

"Farid, nyanyi dong!" atau "Farid masih kosong nggak?"

   Sampe fase terakhir dimana Dongximen hanya tinggal berdua aja - gua pada drum/vokal, dan Farid tetep setia dengan keyboardnya.

  Yang bikin terharu lagi, rilisan perdana yang sengaja dibikin hanya beberapa puluh copy itu (karena takut kaga laku) abis terjual. Padahal harganya lumayan mahal, 50 ribu perak untuk edisi biasa dan 80 ribu untuk edisi lux (yang cuma dibikin 10 copy aja). Ternyata band katro ini punya pengikut setia yang terus ngikutin perkembangannya walau sering matisuri.

   Ya thanks aja dah buat semua yang pernah terlibat dalam Dongximen ini, juga buat Agus Kalibaroto yang udah me-remaster demo2 tape dari taun 1996-2006 ke format CD dengan kualitas yang cukup bagus, walau mutu demonya udah ancur2an.

   Of course terima kasih bangett buat The Doors yang udah menemani gua selama ini. Dan yang paling penting sih buat Farid Manzarek sang keyboardis yang udah 12 tahun ngeband bareng gua..he.. Let’s swim to the moon!

Close Encounter of The 4th Kind

Sunday, October 1st, 2006

Malam itu mata uda Fa tak bisa terpejam. Padahal udara lumayan dingin. Cocok banget untuk tidur. Dua butir pil Lelap yang ia telan seakan tak membawa efek apa-apa. Jangankan tidur, untuk merem pun ia merasa segan.

Bukannya karena banyak pikiran atau utang atau bisnis pakaiannya di Jatinegara yang mengakibatkan uda Fa tak bisa memejamkan matanya. Beberapa hari ini di halaman belakang rumahnya yang cukup luas itu sering terdengar suara gemerisik. Anehnya itu selalu terjadi kalau ia sedang sendirian di rumah. Seperti malam ini. Istri dan mertua uda Fa tengah pulang ke Payakumbuh, meninggalkannya sendirian di rumah. Tadinya uda Fa merasa senang ditinggal sendirian. Tapi semenjak ada bunyi-bunyi gemerisik di belakang rumahnya, ia menjadi teramat sangat tidak tenang.

Dan hari ini, bunyi gemerisik itu kembali terdengar di halaman belakang rumahnya. Karena tak tahan didera rasa penasaran, uda Fa segera bangkit dari ranjangnya, mengambil parang dan senter, lalu mengendap-endap menuju pekarangan belakang rumahnya. Disorotkannya lampu senter ke segala penjuru halaman. Pertama tak ditemukannya sesuatupun disana. Baru saja ia akan beranjak masuk ke dalam rumahnya, mendadak gemerisik itu terdengar lagi. Kali ini arahnya dari rimbunan pohon tebu yang ditanam uda Fa dipekarangan belakang rumahnya. Dengan reflek diarahkannya senter ke sumber suara. Mendadak cahaya senter tersebut membentur sesuatu yang membuat dengkul uda Fa terasa lemas. Bukan. Bukan setan, gendruwo, demit atau sejenisnya yang dilihat uda Fa, melainkan sesosok mahluk kurus kerdil berwarna pink. Tangannya kurus panjang sampai mencapai lutut, berkepala bulat besar dengan sepasang mata yang juga bulat dengan bola mata hitam. Kepala tersebut tak mempunyai hidung, melainkan hanya ada sebuah belalai pendek. Ada segaris mulut yang kecil di wajahnya. Ia tengah jongkok di tengah rimbunan tebu di kebun uda Fa.

“Apaan lu!” teriak uda Fa. Sebenarnya dia ingin mengatakan “Siapa lu!”, namun ia sadar kalo yang dihadapinya ini bukan manusia. Mungkin sejenis mahluk halus, mungkin juga mahluk dari negeri antah berantah.

“Mbbrplppzphh” Jawab mahluk pink tersebut.

“Apaan?”

“Zpzpprrtmblphh”

Uda Fa akhirnya mahfum bahwa ia kini telah mengalami sebuah kejadian yang teramat sangat langka, yaitu bertemu dengan sesosok mahluk Extra Terrestrial. Sesosok alien dari planet antah berantah. Sadar bahwa mahluk tersebut tak mengerti perkataannya, uda Fa berusaha membuat isyarat dengan tangannya. Mahluk tersebut tetap berjongkok di tengah rimbunan tebu. Matanya yang bulat hitam menatap bingung ke arah uda Fa. Frustrasi karena isyarat tangannya tak dimengerti mahluk tersebut, uda Fa lalu berusaha berkomunikasi dengan cara meniru suara mahluk tersebut yang tadi sempat didengarnya.

“Mbbrplpzpcrp..” ucap uda Fa. Mahluk itu diam saja.

“Klpprpzpzpmbrp..” ucap uda Fa lagi.

“Apa sih loe!” tiba-tiba mahluk tersebut berkata pada uda Fa.

“Eh, bisa ngomong juga ternyata. Kenapa dari tadi lo cuma mbrp-mbrp doang?”

“Oh, sori. Tadi itu gwe ngeden, bukan ngomong.”

“Ngeden?” uda Fa bertanya dengan tampang bingung.

“Iya. Maaf nih gwe numpang boker di kebun loe. Abis susah nyari tempat yang banyak pohon di sekitar sini.”

Perasaan kesel bercampur bingung bercampur sejuta perasaan lain yang sukar dilukiskan kata-kata berkecamuk dalam hati uda Fa. Namun belum sempat ia membalas ucapan mahluk tersebut, terdengar bunyi desing, disusul kilatan sinar aneh berwarna oranye dan hijau terang.

“Sori nih, jemputan gwe udah dateng. Makasih ya, mas.” Kilatan sinar itu lalu menyambar tubuh sang mahluk. Dalam sekejap mata iapun menghilang. Juga bunyi desing dan sinar aneh tersebut.

“Mas-mas.. Gua orang Padang, tauk!!” Teriak uda Fa kesal. Sambil ngegrendeng, disorotkannya cahaya senter ke tengah rimbunan tebu tempat mahluk tadi jongkok, tapi tak ditemuinya apapun disitu.

“Sial. Katanya boker tapi kok ngga ada bekasnya ya? Padahal kalo ada kan lumayan buat gua jual ke National Geographic.”

Akhirnya uda Fa kembali ke kamarnya dengan gontai. Dihempaskannya tubuhnya ke atas kasur. “Bener-bener susah hidup ini,” ia membathin, “Mau dapet tokai aja gagal, apalagi duit..”

Ia menghela napas panjang, memejamkan matanya, lalu molor…

================== TAMATE (kagak jelasss) =================

Close Encounter of The 5th Kind

Sunday, October 1st, 2006

        Malam itu mata mbah Bejo tak bisa terpejam. Padahal udara lumayan dingin. Cocok banget untuk tidur. Dua piring kangkung rebus yang ia gado bersama sambel terasi seakan tak membawa efek apa-apa. Boro-boro tidur, untuk memejamkan mata saja sulitnya minta ampun..

         Bukannya karena cucunya kesengsem dengan pembatu sebelah rumah atau flu burung atau mules karena kebanyakan makan kangkung + sambel terasi yang mengakibatkan mbah Bejo tak bisa memejamkan matanya. Beberapa hari ini di halaman belakang rumahnya yang cukup luas itu sering terdengar suara gemerisik. Anehnya itu selalu terjadi kalau ia sedang sendirian di rumah. Seperti malam ini. Cucu paling kecil mbah Bejo tengah lembur di pabrik, meninggalkannya sendirian di rumah. Tadinya mbah Bejo merasa senang ditinggal sendirian, karena bisa bebas mainan burung (biasanya sang cucu selalu melarang karena belakangan ini flu burung kembali marak). Tapi semenjak ada bunyi-bunyi gemerisik di belakang rumahnya, ia menjadi teramat sangat tidak tenang.

        Dan hari ini, bunyi gemerisik itu kembali terdengar di halaman belakang rumahnya. Karena tak tahan didera rasa penasaran, mbah Bejo segera bangkit dari ranjangnya, mengambil  keris dan senter, lalu mengendap-endap menuju pekarangan belakang rumahnya. Disorotkannya lampu senter ke segala penjuru halaman. Pertama tak ditemukannya sesuatupun disana. Baru saja ia akan beranjak masuk ke dalam rumahnya, mendadak gemerisik itu terdengar lagi. Kali ini arahnya dari rimbunan pohon cabe yang ditanam mbah Bejo dipekarangan belakang rumahnya. Dengan reflek diarahkannya senter ke sumber suara. Mendadak cahaya senter tersebut membentur sesuatu yang membuat dengkul mbah Bejo terasa lemas. Bukan. Bukan setan, gendruwo, demit atau sejenisnya yang dilihatnya, melainkan dua sosok mahluk berlainan jenis tengah berjongkok berhadapan di tengah rimbunan cabe tersebut. Yang satu sepertinya sangat ia kenal, sedangkan satu lagi juga nampaknya cukup familiar, walaupun ia lupa-lupa ingat siapa itu.

         “Astagfirullah, ngapain kamu Yo!” teriak mbah Bejo. Yang dipanggil ‘Yo’ mendadak gelagapan dan langsung berdiri sambil membenahi pakaiannya.

         “Nganu, mbah. Ini lagi metiki cabe karo Inah.”

         “Metiki cabe kok ya bengi-bengi tho, Yoo..Yo!”

         “Abis mumpung sempet, mbah.”

         “Kok ya ora nganggo klambi?” tanya mbah Bejo lagi.

         “Nganu, mbah. Takut kotor kena getah.” Dengan gelagepan sang cucu mencoba ngeles dari pertanyaan-pertanyaan mbahnya.

         “Pohon cabe mana ada getahnya?” bentak si mbah.

         “Bukan getah pohon cabe, mbah. Tapi getah yang satunya lagi.”

            

          “Getah apaan! Alasan aja lu!”            

          Mbah Bejo akhirnya mahfum bahwa ia kini telah mengalami sebuah kejadian yang teramat sangat lazim ditemui di tabloid lampu merah. Perasaan kesel bercampur bingung bercampur sejuta perasaan lain yang sukar dilukiskan kata-katapun berkecamuk dalam hati mbah Bejo. Akhirnya dengan pasrah ia berkata,

         “Ya wis, Yo. Jika itu memang maumu. Besok mbah tak panggilken penghulu, biar kalian berdua puas.”

          Tak dinyana, cucu mbah Bejo malah buru-buru menukas, “Wah, jangan mbah. Kita enggak serius-serius amat kok. Nggak usahlah pake penghulu-penghuluan segala.”

         Inah yang sedari tadi diam saja turut menyambung, “Iya mbah. Kita kan maunya American style aja. Sekarang manggil honey besok kagak kenal. Lagipula saya juga kan punya suami di kampung.”

         Mbah Bejo tak tahu harus berkata apa. Ia bingung apakah harus marah atau merasa lega. Satu yang ia sadari, anak muda jaman sekarang ternyata sudah berbeda jauh dengan jaman ia muda dulu, jaman kemerdekaan.

         Akhirnya beliaupun Cuma bisa menghela napas panjang dan berjalan masuk kembali ke kamar tidurnya. Ngegleprak, memejamkan matanya, lalu molor…

======== TAMATE (kagak jelasss) ======