Guruku Sayang, Guruku Malang…
Pagi ini galau benar hati Pak Djunaidi (atau akrabnya Pak Joned). Jadwal mengajar dari Lembaga Bahasa tempat ia menggantungkan periuk nasinya baru saja keluar. Terkejut setengah mati ia melihat kalau semester ini dirinya cuma mendapat jatah 4 kelas seminggu (padahal biasanya 10 kelas). Jika persatukali mengajar ia dibayar 50 ribu, maka dalam seminggu ia cuma mendapat 200 ribu. Sebulan 800 ribu. Padahal ia sudah mengkalkulasi kalau pendapatan perbulan dari yayasan ini mencapai Rp.2 juta. Ia coba tanya pada resepsionis, apakah ada kesalahan dalam jadwal baru ini, namun Mbak Yos, resepsionis yang sekal dan selalu tampil seksi itu menyarankan agar Pak Joned langsung menemui Pak Oka, pemilik lembaga, yang ruangannya terletak di lantai 3.
Dengan hati yang masih kalut, Pak Joned segera melangkahkan kaki menuju ruangan pak ketua di lantai 3. Diketuknya pintu dengan hati-hati.
“Siapa?”
“Saya, pak. Djunaidi.”
“Ooh, pak Djunaidi. Masuk, pak.”
Pak Joned segera memasuki ruangan berukuran 3X3 meter itu.
“Silahkan duduk.”
“Terima kasih, pak.”
“Ada perlu apa, pak Djunaidi?”
“Ini, pak. Mau tanya soal jadwal semester ini.”
“Ada apa memangnya dengan jadwal itu?”
“Apa tidak ada kesalahan, pak. Soalnya saya cuma mendapat 4 kelas saja perminggu. Padahal dulu kan bapak pernah menjanjikan, minimal 8 kelas saya pegang perminggunya.”
Pak Oka segera meluruskan duduknya. Wajahnya berubah serius.
“Oh, soal itu. Begini. Saya rasa you harus tahu juga. Jumlah murid semester ini memang melorot drastis. Kalau saya kasih you 8 kelas, nanti pengajar lain mau dikasih apa? Ini memang situasinya. Sekarang kan you tau sendiri? Dimana-mana tempat les menjamur dan berlomba banting harga.”
“Tapi saya minta jangan 4 lah, pak. Saya sudah terlanjur menolak tawaran dari tempat lain karena terlanjur mengira saya bakal full time disini.”
“Maaf. Tidak bisa, pak. Nanti kalau buka kelas baru, you saya kasih pegang deh.”
Demikianlah percakapan itu berakhir. Dengan kepala pusing dan mata berkaca-kaca, pak Joned menuruni tangga. Duh, bagaimana saya harus menutup kekurangan pendapatan saya ini? Demikian mungkin pikirnya. Lembaga bahasa lain sudah terlanjur ia tolak karena sudah 4 tahun ini dirinya selalu mendapat prioritas di lembaga asuhan Pak Oka ini. Tidak dinyana kini dengan entengnya pak Oka bicara seperti itu padanya. Sepasang dengkul pak Joned terasa lemas, dan iapun menghempaskan pantatnya ke sofa di ruang tunggu. Galau.
***** ***** *****
Setelah lewat beberapa minggu, kenyataan dibalik jadwal baru mulai terkuak. Berawal dari berpapasannya pak Joned dengan seorang lelaki bule berusia 20 tahunan di lobby tempat les. Pak Joned sedang masuk untuk mengambil beberapa buku miliknya yang dititipkan di lembaga itu, sedangkan si bule sedang menuju keluar (hari itu memang bukan jadwal pak Joned untuk mengajar).
“Siapa itu?” tanya pak Joned pada office boy yang kebeneran lagi ngepel.
“Oh, itu Mr.Lemans pak. Native speaker.”
“Orang Inggris?”
“Bukan, katanya orang Belanda, pak.”
“Pak Oka dimana?”
“Hari ini beliau nggak datang, pak. Katanya mau ada urusan ke Kuningan.”
“Ooh..”
Diam-diam pak Oka segera menuju ke lantai 3. Ke ruangan pak Oka yang memang nggak pernah dikunci, karena kuncinya hilang digondol tikus. Dibongkarnya tumpukan kertas di atas meja pak Oka.
“Nah. Ini dia!” Pak Joned berseru dalam hati. Rupanya kertas jadwal yang dia cari.
Matanya mulai menyusuri daftar kelas dalam jadwal tersebut. Betapa terkejutnya ia setelah menghitung jumlah kelas tiap-tiap pengajar dalam satu minggu. Miss Helen 2 kelas. Miss Shanti 4 kelas. Dia sendiri 4 kelas. Dan Mr.Lemans…..12 kelas! Bukan main kesalnya pak Joned membaca kenyataan ini. Diambilnya kertas tersebut dan pergi meninggalkan ruangan pak Oka. Galau lagi.
***** ***** *****
Tok-tok-tok..
“Siapa?”
“Saya, pak.”
“Oh, pak Joned. Ada apa lagi pak.”
Pak Joned memasuki ruangan pak Oka dan langsung duduk tanpa menunggu dipersilahkan. Dikeluarkannya jadwal yang diambilnya diam-diam kemarin, dan diletakkannya di atas meja pak Oka.
“Ini kan jadwal saya? Lancang benar you mengambil ini tanpa izin saya!”
Tapi kali ini pak Joned nggak mau kalah gertak.
“Lho, kok jadi bapak yang marah? Seharusnya saya dong yang marah karena sudah bapak bohongi. Bapak bilang tidak ada kelas, tapi kenapa si Lemans bisa dapat 12 kelas begini?”
“Itu bagian dari strategi saya untuk menarik murid. Saya pasang spanduk gede-gede, pengajar Native Speaker. Terbukti ampuh kan? Murid-murid berbondong-bondong daftar. Mereka senang diajar bule, orangtua mereka juga bangga karena anaknya diajarin bule.”
“Bapak jangan membedakan ras begitu dong! Saya ini kan lulusan IKIP. Miss Helen lulusan FKIP jurusan pengajaran Bahasa Inggris. Miss Shanti malah orang India. Saya yakin kemampuan kami semua enggak kalah dari si Lemans itu. Tapi kenapa sekarang kami semua dianak-tirikan? Padahal dulu kan kami juga yang membesarkan lembaga ini.”
“Pokoknya, murid-murid pada senang dan orangtua mereka juga rela bayar lebih mahal supaya anaknya bisa diajar Mr.Lemans yang eksekutif muda itu. Biarpun baru 20 tahun lebih, tapi dia sudah berpengalaman deal dengan berbagai perusahaan asing. Tinggalnya aja di apartemen Saruna. Nggak usah konversasi sehari-hari. Business English juga dia sikat. Makanya dia tetap akan saya pertahankan walaupun bayarannya 2 kali lipat!” Pak Oka keceplosan.
Bukan main kesalnya pak Joned. Dibantingnya pintu ruangan pak Oka. Ia turun ke bawah dengan wajah kusut, sampai-sampai Mbak Yos yang bahenol itupun dia cuekin.
“Biar gua cari tau, siapa sih Lemans itu..”
***** ***** *****
Sore itu, pak Joned sudah siap dengan motor bebek-nya. Nongkrong 20 meteran dari lembaga bekas tempat ia mengajar (setelah banting pintu, pak Joned langsung dipecat oleh pak Oka). Menunggu Mr.Lemans keluar. Tak lama, yang ditunggu keluar dan menyetop taksi. Dengan gaya bak mata-mata profesional, pak Joned menggeber motor bebek-nya, mengikuti taksi yang membawa Mr.Lemans.
“Hmm.. di daftar pengajar sih ngakunya tinggal di apartemen Saruna. Coba liat bener nggak.”
Ternyata taksi tidak menuju ke belokan yang menuju Apartemen Saruna, melainkan lurus lalu belok kiri, belok kiri lagi. Memasuki jalan Komodo. Taksi lalu berhenti di sebuah losmen kecil yang didepannya banyak duduk-duduk orang bule dan keling. Asik ngobrol sambil ngebir.
“Wah, ini sih losmen buat turis boncos.” Pak Joned membatin. Tak lama, dilihatnya Mr.Lemans keluar dari losmen dan bergabung dengan kumpulan yang asik ngebir di depan losmen. Pakaiannya kontras benar dengan yang tadi dilihatnya di tempat les. Biasanya necis dan berdasi, ini pake kaos oblong dan jeans belel. Dalam perjalanan pulang dengan motornya, pak Joned geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir betapa mudahnya orang-orang di tempat les ditipu oleh si bule.
***** ***** *****
Besoknya, kembali berlokasi dalam ruangan pak Oka, pak Joned membeberkan semua yang dilihatnya semalam.
“Dia bukan eksmud, pak. Cuma turis boncos biasa. Kalau bapak nggak percaya, ikut saya kesana sekarang juga oke.”
Pak Oka nampak mengerutkan dahinya. Berpikir keras.
“Turis begitu mana punya visa kerja, pak. Nanti kalau ada razia bisa bahaya. Lembaga ini juga yang kena.”
“Selama nggak ada yang ngadu sih nggak bakal ada yang ngerazia.”
Pak Joned kembali berniat buka suara, tapi keburu dipotong pak Oka.
“Sudah. Kelas you yang empat itu saya kembalikan. Lusa mau buka 2 kelas lagi nanti you ambil saja. Saya usahakan 8 kelas bisa you pegang. Tapi tolong masalah jalan Komodo jangan you kasih tau orang lain ya?”
“Tapi kan anak-anak kasihan juga pak. Belum tentu dia ngajarnya bener.”
“Aah. Itu nggak penting. Yang penting kan mereka senang diajar sama bule. Toh sampai saat ini juga orangtua murid nggak ada yang komplain.”
Pak Joned nggak tau harus ngomong apa. Hati besarnya jelas bersorak kegirangan melihat pak Oka mati kutu dan kembali memberinya jatah 8 kelas. Tapi hati kecilnya merasa kasihan melihat Miss Helen dan Miss Shanti yang kelasnya disunat dan diberikan ke Meneer Lemans. Belum lagi perasaan kasihan pada anak-anak yang udah bayar mahal dan cuma diajarin sama turis boncos yang belum tentu mampu bicara bahasa Inggris dengan baik dan benar.
Ditapakinya satu-persatu anak tangga menuju ke lantai bawah sambil bertanya pada dirinya sendiri: “Siapa sebenarnya yang salah: orang tua dan murid-murid yang dibutakan oleh rambut pirang dan mata biru Meneer Lemans, Pak Oka yang bule-minded, dirinya dan Miss Helen dan Miss Shanti yang bukan terlahir sebagai bule, Meneer Lemans yang memangsa jatah mereka, atau malah mbak Yos yang demplon?”
Lho kok mbak Yos juga ikutan salah? Ya jelas karena dia juga ikut-ikutan mempromosikan si bule pada orang-orangtua murid yang datang mendaftarkan anak mereka.
“Sekarang kami buka kelas native speaker lho, bu. Yang ngajar bule asli. Eksekutif muda dari perusahaan asing. Memang bayarannya lebih mahal. Tapi wajarlah bu. Kan yang ngajar juga bule.”
“Terus bisa bahasa Indonesia nggak tuh dia?”
“Sedikit-sedikit sih bu.”
“Lho, anak saya kan sama sekali nggak bisa bahasa Inggris. Nanti kalau mau nanya bagaimana?”
“Justru karena dia nggak bisa bahasa Indonesia, jadi anak-anak dipaksa ngomong pake Inggris bu. Kan malah bagus, jadi cepet bisa…”
====== TAMATE (Kagak jelaasss)======
Cerita ngaco yang dibikin on the spot ini berangkat dari pengamatan pribadi dan rasa prihatin gua melihat fenomena baru: tersingkirnya pengajar bahasa made in lokal berijazah IKIP, FKIP, UI dll oleh yang katanya “native speaker” dari Belanda, Luxemburg, Slovenia, Ceko, Prancis dan negara-negara lainnya selain Inggris dan USA. Hanya dengan modal pede dan tampang bule mereka menggusur guru-guru bahasa Inggris lokal yang sudah kenyang makan asam-garam dan lulusan baru dari bidang bersangkutan.
Hal ini diperparah oleh mentalitas para pemilik kursus/lembaga/sekolah yang lebih mementingkan tampilan guna menarik untung sebesar-besarnya daripada mutu, dengan cara pintas memajang bule di kursus/ lembaga/sekolah yang mereka asuh.
62 tahun sudah usia kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Disaat Iran, Pakistan, India, Cina dll getol memaksimalkan SDM mereka, disaat adik-adik kita berjaya menjuarai olimpiade Fisika di luar negeri, di kandang sendiri ternyata kita masih kalah sama bule….. Duh, nelangsa pisan…