Selamat Jalan Boss Ben
Bagi teman-teman kuliah dulu yang pernah nginep di rumah gua, pasti tak asing lagi dengan sosok yang bernama Ben, yang akrab dipanggil Boss Ben. Dulu pernah ikut main bola di kampus dan pulangnya ikut makan-makan bersama tim Sastra Cina di RM Berkat. Si Boss mudah berbaur dengan orang-orang yang baru dikenalnya karena sifatnya yang easy going itu.
Pada tanggal 26 Februari lalu, Boss Ben wafat dalam usia 33 tahun. Akibat penyakit liver yang sudah beliau derita selama beberapa minggu belakangan. Beritanya gua terima dari sms seorang teman pada tanggal 26 Februari jam 16.00 = "At, Si Ben meninggal."
Sedih? Jelas! Karena gua sudah bersahabat dengan Boss Ben selama 25 tahun. Sejak kami masih SD. Terutama mengenang begitu banyaknya kisah lucu, suka dan duka dalam sejarah persahabatan kami ini. Boss Ben juga adalah satu-satunya yang gua ajak ke Purwokerto saat lamaran dulu, sebagai saksi dari calon mempelai pria.
Salah satu kisah kocak gua bersama Boss Ben adalah kejadian di Puri Cafe (dimana foto ini diambil), saat gua dan band gua Lazy Sunday mengikuti sebuah acara Brit Pop yang diselenggarakan anak-anak ABG. Saat itu gua memasukkan Boss Ben secara gratis dengan ngebokis bahwa beliau adalah manajer band Lazy Sunday (padahal si Boss cuma pengen nonton doang, dan hari itu ikutan mengantar kumpulan Lazy Sunday berlatih pada pagi hari sebelum manggung) . Lalu pada saat tampil, ternyata aksi Lazy Sunday yang membawakan 2 nomor The Stone Roses : "I Wanna Be Adored" dan "Daybreak" cukup menmukau penonton. Salah seorang penonton lalu bertanya pada Boss Ben:
"Bang, band apa ini namanya?"
"Wah, gue nggak tau.." jawab Boss Ben.
"Lho, kan situ manajernya?"
"Iya, tapi baru aja ketemu tadi pagi."
Hehehe…
Yaah, ini adalah salah satu contoh dari seabreg pengalaman unik bersama si Boss.
Selamat Jalan, Boss Ben. Semoga bahagia di alam sana…