Archive for April, 2008

Ibu Guru Hung Yingping Dalam KenanganI

Tuesday, April 8th, 2008

Hari Minggu pagi lalu, saat sedang
berbelanja di Tanah Abang bersama
istri dan nyokap, gua mendapat
panggilan HP dari adik gua. Cuma
karena lowbat, maka panggilan itupun
terhenti. Setelah menelepon balik
dengan menggunakan HP istri, tangan
gua mendadak lemas, sehingga hampir
saja HP istri gua lepas dari genggaman.

"Tadi Tante Li Fang telpon," ucap adik
gua, "katanya Ibu Hung meninggal."

Buat adik gua, nama Ibu Hung mungkin
tak berarti apa-apa, secara dia tidak
kenal dengan beliau. Namun bagi gua
dan staf pengajar Bahasa Mandarin lain
di LPPT UNTAR, terutama gua yang sudah
mengenal beliau sejak tahun 2000, nama
Hung Ying Ping, atau akrab dipanggil
dengan Hong Laoshi (Guru Hong (dibaca -
Hung)), adalah sosok yang teramat
sangat familiar.

Ketegasan beliau dalam mengajar, juga
dedikasi dan disiplin beliau sebagai
pengajar, sungguh merupakan panutan
bagi guru-guru lain di LPPT UNTAR.
Beliau sungguh tegas memilah kapan
kita berperan sebagai teman dan kapan
kita berperan sebagai murid. Jika
diluar jam pelajaran, murid-murid bisa
berbincang akrab dengan beliau tentang
apa saja, dan Hong Laoshi akan
menanggapinya dengan senang hati.
Namun di dalam kelas, walaupun kita
sering berbincang akrab dengan beliau,
namun tetap tak ada kompromi jika kita
tak menghapal Hanzi (kanji) maupun
tidak mengerjakan tugas yang beliau
berikan.

"Belajar Hanyu (bahasa mandarin) tidak
bisa setengah-setengah. Kalau mau bisa
ya jangan tanggung-tanggung. Kalau
malas, lebih baik tidak usah. Sayang
buang-buang uang." Demikian selalu
beliau berucap dengan logat Taiwannya
yang kental, mengingatkan murid-
muridnya yang kadang malas.

Datang selalu lebih awal setengah jam -
satu jam sebelum kelas beliau mulai,
adalah ciri lain dari Ibu Hung. Tidak
pernah sekalipun beliau datang
terlambat. Keluar kelaspun tidak
pernah sebelum waktunya, bahkan
seringkali terlambat keluar sampai
lebih dari 15 menit karena masih sibuk
melatih pelafalan atau pengucapan
murid-murid beliau yang masih
dianggapnya kurang pas.

Mengajar Bahasa Mandarin bagi Hong
Laoshi jelas bukan untuk masalah
perut. Hidup beliau sudah sangat
mapan. Kedua anak beliau sudah menikah
dan hidup mandiri. Mengajar bagi Hong
Laoshi lebih merupakan sebuah
pengabdian untuk berbagi ilmu yang
beliau miliki kepada mereka yang
berniat mempelajari (selain mengajar
Bahasa Mandarin, Ibu Hung yang asli
Taiwan itu juga mengajar Bahasa
Jepang. Beliau menamatkan S1
Ekonominya di negeri Matahari Terbit
tersebut).

Ada banyak kenangan manis dan kocak
gua bersama Hong Laoshi. Diantaranya
sewaktu gua berpasangan bersama
beliau, mengajar kelas hari sabtu
Mandarin Dasar. Kelas sabtu tersebut
berlangsung dari jam 09.00 - 13.00,
dibagi menjadi 2 sesi dan diseling
istirahat selama 15 menit. Sabtu
terakhir tersebut, seharusnya dibagi
menjadi 2 sesi juga, sesi pertama
untuk review (bagian gua), sesi kedua
adalah ujian (jatah Hong Laoshi).
Namun murid-murid waktu itu membujuk
gua dengan 3/4 memaksa agar sesi
review ditiadakan saja dan langsung
ujian.

"Kan ujiannya susah, Laoshi. Lagipula
soalnya banyak." Demikian salah
seorang murid berkilah.

"Lagipula mana ngaruh review saat
begini, tegang tau Laoshi. Diterangin
juga nggak bakalan masuk." Yang
lainnya ikut umbar alasan.

Akhirnya gua menyerah, soalpun
dibagikan.

Jam 10.30 Ibu Hung datang.

"Koes, mana soal-soal yang buat
nanti?" Tanya beliau pada Mas
Koesmanto, staf LPPT yang biasa
mengurus pendaftaran siswa dan pernak-
pernik lainnya.

"Lho, kan udah diambil Pak Asriat,
Bu." Jawab Mas Koes yang asli Solo
dengan logat jawanya yang medhok.

"Diambil Pak Asriat? Kan ujiannya sama
saya?"

"Tadi murid-muridnya minta supaya
ujian dimajukan, Bu. Katanya soalnya
susah."

Tentu saja Ibu Hung mana mau kompromi
soal begini. Maka dipanggillah gua
oleh beliau, dinasehati panjang lebar
yang intinya soal ketegasan dalam
memegang peraturan. Gua mencoba
berkilah dengan alasan soal yang sulit
dan banyak itu.

"Kasihan murid-murid bu.." Demikian
alasan gua.

"Hao, ni dang hao laoshi, wo jiu dang
huai laoshi..(baca: Hao, ni tang hao
laose, wo ciu tang huai laose)"
Demikian jawab beliau, lalu berjalan
masuk ke ruang kelas. Menaruh kursi
putarnya di tengah ruang kelas dan
mengawasi satu-persatu murid dengan
seksama.

Apa sih arti perkataan beliau
tadi? "Baik, (kalau) kamu jadi guru
baik hati, (Biar) saya yang jadi guru
jahat." Hehe..he..

Sekarang Ibu Guru Hung yang tegas
namun juga kocak dan baik hati itu
telah tiada. Meninggal dalam usia 59
tahun pada Sabtu dinihari lalu karena
kanker.

Ada sebuah kisah mengharukan tentang
sakit beliau ini. Setelah operasi
pertama di Amerika, Ibu Hung rupanya
sudah memiliki firasat kalau usianya
tak lama lagi. Dia berpesan pada kedua
anaknya yang bermukim disana: "Kalau
nanti mami ada kenapa-kenapa di
Jakarta, kalian tak usah memaksa
pulang kalau tidak dapat izin."

Ternyata benar saja, setelah operasi
pertama tersebut (walau kondisi Ibu
Hung sempat membaik), kanker yang
beliau derita ternyata tumbuh lagi
sehingga harus kembali menjalani
operasi kedua di Singapore. Setelah
lama dirawat disana, Ibu Hong memaksa
pulang ke rumah beliau di Jakarta.
Beliau menolak segala upaya
penyembuhan, termasuk kemoterapi,
karena hanya menawarkan kemungkinan
berhasil maksimal 30%.

"Saya jangan jadi beban (keluarga),
terutama anak-anak." Demikian pesan
beliau, seperti yang diceritakan sang
suami, Pak Darvid, seorang Huaqiao
(tionghoa peranakan) asal
Bogor. "Kalau memang sudah waktunya
saya meninggal, saya siap."

Ibu Hung yang tabah itu lalu
menghadapi hari-hari terakhir beliau
hanya dengan berbekal rasa tawakal dan
obat-obatan untuk mengurangi rasa
sakit. Menjelang berpulangnya beliau,
Ibu Hung sempat dibawa ke R.S Gatot
Subroto atas saran dari salah seorang
suster yang merawat beliau di rumah.
Namun Sabtu dinihari lalu, Tuhan Yang
Maha Pengasih akhirnya mengakhiri
penderitaan Ibu Hung, mengangkat
beliau ke tempat yang jauh lebih baik.

Selamat Jalan Hong Laoshi…
Ibu_hung