Tiada Ampun Bagimu (judul asli - Mengapa Tiada Maaf)
Sejak banjir besar Februari lalu, banyak tikus berkeliaran dalam rumah gua. Mungkin ada sekitar 5 ekor. 4 tikus dan 1 cecurut/celurut/curut. Awalnya kehadiran mereka masih bisa ditoleransi, dalam artian mereka cuma beraksi selepas jam 12 malam. Namun lama-kelamaan, mereka mulai melanggar perjanjian dari hati-kehati itu dengan cara beraksi lebih awal. Jam 8 malam mereka sudah kluyar-kluyur dengan pongahnya di dalam rumah.
Tunggu punya tunggu, karena mereka tidak juga sadar, atas prakarsa istri gua membeli 2 jenis perangkap tikus. Yang pertama adalah lembaran lem super kuat. Lembaran ini berhasil menangkap seekor tikus ABG, yang langsung dibuang ke gerobak sampah yang lagi parkir depan rumah (berikut lembarannya sekalian, karena tikus itu menempel dengan kuat, takutnya kalo ditarik paksa kakinya clopot alias copot).
Yang kedua adalah perangkap primitif yang dulu sewaktu kecil sudah sering gua lihat. Yaitu perangkap berupa kotak berjeruji kawat. Dengan umpan sepotong ikan asap, perangkappun disiapkan. Benar saja, hari pertama perangkap itu memakan korban seekor tikus cilik.
Sempat bingung mau diapakan tikus cilik tsb. Akhirnya sementara dibiarkan aja dalam kurungan, dengan diberi jatah makan ikan asap dan diberi air sekedarnya untuk minum. Eeh, tak dinyana, 2 hari setelahnya ada biang tikus yang masuk lagi dalam perangkap itu. Mungkin karena dia liat ada temannya yang lagi pesta "ikan asap", makanya tergerak untuk ikut bergabung.
Maka, dengan 2 tikus di kurungan, digelarlah rapat untuk menentukan jenis hukuman bagi 2 tierdakwa tersebut. Peserta rapat yang terdiri dari 2 orang: gua dan adik gua, mengajukan 4 opsi hukuman untuk dipertimbangkan:
Option A: Burn to Crisp - dibakar sampai garing.
Caranya: Sampah2 dalam bak di depan diguyur minyak tanah lalu dibakar. Setelah api besar, masukkan kurungan dengan 2 tikus di dalamnya.
Titik lemah: Cara ini dianggap terlalu sadis dan mungkin mengundang cibiran tetangga.
Option B: Buried Alive.
Caranya: Gali lubang seperlunya. Masukkan kurungan berikut 2 tikus. Timbun dengan tanah.
Titik lemah: Capek ngegali lubangnya karena harus cukup dalam untuk mencegah bau busuk dari jenazah terdakwa.
Option C: Masukkan dalam karung, lalu buang ke seberang tembok batas dengan komplek sebelah. Cara yang paling manusiawi.
Titik lemah: Gua tidak tau apa dibalik tembok tersebut. Juga kemungkinan menarik perhatian orang yang kebetulan lewat. Jika dibuang malam hari, takutnya menimbulkan kecurigaan.
Option D: Diumpankan pada Molurus (sejenis python) piaraan adik gua yang sudah mencapai panjang 2 meter.
Titik lemah: Tidak ada.
Akhirnya setelah melalui perdebatan alot, terpilihlah option D sebagai jalan keluar, dengan perbandingan suara 2:0.
Tinggal 1 tikus lagi dan 1 celurut yang masih tersisa dalam rumah. Semoga mereka bisa mengambil hikmah dari tertangkapnya 3 teman mereka dan mulai kembali menaati batas waktu awal yang diberikan untuk kegiatan mereka, yaitu jam 12 malam.
Masih ada lanjutannya…
Ternyata kemarin tikus yang kecil ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan tubuh penuh luka-luka. Berdasarkan analisasi (peng-anal-an) dari pakar forensik RSCM, juga analisasi foto oleh Roy Suryo, kesimpulannya machluk malang tersebut mokat karena mengalami siksaan dari teman 1 selnya yang bertubuh lebih besar. Ini namanya MMM = Maus Makan Mais.
Menilik kejadian tersebut terpaksa digelar sidang ulang. Kesimpulannya, hukuman mati bagi terdakwa #2 dengan option D dipercepat. Tak lama lagi, iapun nampaknya akan segera ber-reinkarnasi menjadi tahi Molurus.
NB: Sekedar pengetahuan tambahan, ular Molurus ini memiliki sistim pembuangan yang unik. Tainya ada 2 macam. Putih dan kehitaman. Menurut adik gua yang pakar python otodidak dan otoriter itu, tulang2 binatang yang dimangsa kelak akan keluar dalam wujud tai putih, sedangkan daging dan bulu berwujud tai item.